Selamat Datang

Selamat Datang

Senin, 23 Januari 2012

Buku Ajar Asuhan Neonatus, Bayi Dan Balita

MATERI MATA KULIAH

ASUHAN NEONATUS, BAYI
DAN ANAK BALITA







DOSEN PENGAMPU :
DEWI RATNA SULISTINA, S.ST


PRODI D III KEBIDANAN
UNIVERSITAS TULUNGAGUNG
TA 2011-2012

ASUHAN PADA BAYI USIA 2-6 HARI


A. Pendahuluan
Asuhan pada bayi baru lahir usia 2 – 6 hari adalah melakukan pengumpulan data yang terdiri dari pengkajian fisik bayi baru lahir (BBL) dan penampilan serta perilaku BBL. Ketika memeriksa BBL, hal yang perlu diperhatikan diantaranya : gunakan tempat yang hangat dan bersih untuk pemeriksaan, cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan, gunakan sarung tangan dan bertindak lembut pada saat menangani bayi, lihat, dengarkan dan rasakan tiap-tiap daerah, dimulai dari kepala dan berlanjut secara sistematik menuju jari kaki, jika ditemukan faktor resiko atau masalah, carilah bantuan lebih lanjut yang memang diperlukan, rekam hasil pengamatan yang telah dilakukan.
Sedangkan yang dilihat dari penampilan serta perilaku BBL adalah keadaan umum, kesan subyektif dan penampilan fisik, status nutrisi, tingkah laku, kepribadian, cara interaksi dengan orang tua atau orang lain ataupun dengan petugas, postur tubuh, perkembangan dan bicara. Penampilan umum ini biasanya dicatat dengan pemeriksaan fisik dengan cara observasi.

B. Pengumpulan Data
1. Pengkajian Fisik Bayi Baru Lahir
Pengukuran Berat Badan, Tinggi Badan Dan Lingkar Kepala
Pemeriksaan fisik anak merupakan kunci untuk menentukan status kesehatan anak. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan berat badan, tinggi badan, keadaan kulit maupun lingkar kepala dan lain – lain. Dalam menentukan berat badan, sebelum anak ditimbang, skala timbangan diseimbangkan dengan angka nol (0). Bila keseimbangan dari angka lebih dari nol maka hasil akhir dari penimbangan dikurangi dengan angka tersebut.
Tinggi badan pada bayi disebut panjang badan. Untuk memeriksa jantung badan bayi, sebaiknya posisi bayi dibuat ekstens (posisi biasanya fleksi), untuk pengukurannya yang lebih akurat sebagai berikut:
a. Letakkan kepala bayi pada garis tengah alat pengukur
b. Letakkan lutut bayi secara lembut
c. Dorong sehingga kaki ekstensi penuh dan mendatar pada meja ukuran
d. Hitung berapa panjang bayi tersebut dengan melihat angka pada tumit bayi.
Pada anak yang sudah dapat berdiri pengukuran tinggi badannya dengan posisi tegak, kepala ditengah garis, mata memandang kedepan sejajar lantai. Alat pengukur biasanya melekat didinding horizontal dengan lanntai atau bergabung dengan timbangan yang telah mempunyai mistar pembatas atau mistar biasa itu terletak di dinding yang diletakkan diatas ubun-ubun setelah bahu dan bokong menyentuh di dinding.
Pengukuran lingkar kepala dilakukan pada semua anak dan pada anak yang mempunyai kepala besar/hydrosepalus. Cara mengukur adalah dengan melingkarkan alat pengukur dari pertengahan dahi ketulang telinga terus keoksipitalis kembali ke frontalis dengan alat pengukur yang lembut.

Pengukuran Tanda – Tanda Vital
Pengukuran fisiologis merupakan kunci untuk mengevaluasi status fisik dan fungsi vital yaitu suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah. Setiap anak pada umur tertentu mempunyai nilai normal yang berbeda.
a. Suhu badan dapat diukur malalui mulut, rectum atau aksila. Pada pengukuran melalui mulut sebaiknya dilakukan pada anak yang dapat diajak kerja sama untuk menghindari hal – hal yang akan terjadi misalnya thermometer yang digigit. Pengukuran melalui rektal dilakukan pada anak – anak yang tidak dapat dilakukan melalui ketiak atau mulut. Pengukuran melalui rektum dan mulut tidak terlalu umum dilakukan yang paling sering melalui ketiak. Frekuensi kenaikan suhu pada bayi sering berbeda sekitar 0,5 – 1,0 celcius masih dalam batas normal.
b. Nadi dapat diukur pada arteri radialis dan arteri femoralis bagi anak umur lebih 1 tahun, sedangkan bayi menggunakan stetoskop pada apex jantung. Nadi dihitung dengan menggunakan 1 menit, dan kemungkinan iramanya kurang teratur. Apabila nilai nadi berbeda pada arteri radialis dengan arteri femoralis, maka kemungkinan adanya gangguan sirkulasi seperti coarctatio aorta.
c. Pernafasan anak dihitung sama dengan pada orang dewasa kecuali pada bayi dihitung dari gerakan diafragma, atau gerakan abdominal. Pernafasan tersebut dihitung dalam waktu satu menit.
d. Tekanan darah merupakan pengukuran tanda – tanda vital yang biasanya diukur pada anak 3 tahun keatas. Pada pengukuran tekanan darah anak harus rileks dan tenang. Pada bayi dan anak – anak lebih tenang bila dipasang oleh orang tuanya. Bunyi denyut jantung yang paling jelas adalah tekanan systolic dan kemudian bunyi mulai melemah adalah tekanan dyastolic. Penulisannya biasa dengan systolic / dyastolic , misalnya : 120 / 80 mmHg.

Check List Pemeriksaan Fisik Pada Bayi
No Kegiatan

1. Persiapan klien
menjelaskan pada ibu tentang tindakan, prosedur dan tujuan pemeriksaan yang akan dilakukan dan mengatur bayi dalam posisi yang nyaman
2. Mencuci tangan dan memakai sarung tangan
3. Inspeksi KU bayi, posisi (normal/tidak normal), memeriksa kulit (warna, bercak, memar, vernik caseosa, petheciae, sclerema neonatorum memeriksa rambut, lanugo, luka)
4. Kepala
a. Inspeksi : Simetris / tidak, luka / perdarahan
b. Palpasi : Adanya benjolan / tumor / pembengkakan (Caput succendaneum, cephal hematom, meningokel), fontanel mayor dan minor (cembung / cekung / datar, menutup / terbuka), moulage (sutura coronaria, sutura sagitalis, sutura lambdoidea)
5. Mata : Menentukan adanya bola mata, conjugtivitis / gonorea, perdarahan subconjungtiva / sklera, refleks pupil, warna (pupil, kornea, sklera) anisocor / nystagmus, epichantus melebar/tidak
6. Hidung : Terbentuk secara sempurna, simetris, pernafasan cuping hidung, lendir, darah, sekret, Atresia coane
7. Mulut : Terbentuk dan simetris, menentukan kelainan konginetal (Macrognatia / mikrognatia, makroglosus, mikroglosus, cheiloschis palatum, cheiloschisis), reflek rooting, reflek sucking
8. Telinga : jumlah, bentuk, simetris/tidak, menentukan kelainan konginetal (Daun telinga, posisi telinga, kulit tambahan), menentukan kepatenan lubang telinga ada tidaknya gangguan pendengaran
9. Leher : Menentukan kelainan konginetal (Webbed nech), mobilitas leher
10. Thorax : Menentukan bentuk thorax (simetris, silindris, datar, pegion chest, funnel chest), jarak antara kedua puting dan areola mamae, pembesaran mamae, puting susu tambahan, tipe pernafasan (irreguler, dalam / dangkal, pernafasan abdominal / diafragmatik, cheine stokes / wheezing, ronchi) frekuensi pernafasan dan denyut jantung
11. Abdomen : observasi gerakan dan bentuk perut (kembung atau cekung), palpasi hepar, limpa dan ginjal
12. Ekstrimitas atas : observasi gerakan, kesimetrisan tangan, Jumlah jari dan penyelaputan di antara jari – jari, jumlah garis tangan. Raba seluruh klavikula dan tangan
13. Tulang belakang : telungkupkan bayi, observasi akan adanya spina bifida dan adanya pembengkakan, lesung atau bercak kecil berambut. Kaji kurvatura kolumna vertebra, buka lipatan bokong cari adanya lesung atau sinus dan pastikan adanya spingter ani. kaji apakah mekonium sudah keluar atau belum (tentukan frekuensi, konsistensi dan warna tinja)
14. Genetalia
- bayi laki – laki : observasi panjang penis, posisi lubang uretra. raba skrotum untuk memastikan bahwa jumlah testis
- bayi perempuan : buka labia secara perlahan untuk memastikan adanya orifisium uretra, vagina dan klitoris (klitoris besar atau tidak)
- kaji apakah urine sudah keluar atau belum (tentukan frekuensi, jumlah, warna dan bau urine)
15. Ekstrimitas bawah: Periksa panjang kedua kaki, pergerakan, menentukan adanya fraktur atau paralise, Posisi kaki dalam kaitannya dengan tungkai. Bentuk tungkai bawah ada tidaknya edema. Jumlah jari dan penyelaputan di antara jari – jari, warna kuku
16. Berat badan: memilih alat pengukur BB yang yang tepat, memakai alas, menimbang BB
17. Refleks bayi: memeriksa reflek pupil, refleks menghisap / menelan dengan benar (suching), refleks moro, rooting refleks, reflek grasping, reflek babinsky, reflek plantar
18. Lingkar kepala: menentukan posisi yang tepat selama pengukuran, menentukan lokasi pengukuran lingkar kepala (besar/MO, sedang/FO, kecil/SOB)
19. Tinggi badan: memilih alat pengukur TB yang tepat, menentukan posisi yang tepat, melakukan pengukuran
20. Kulit
a. Verniks (tidak perlu dibersihkan karena menjaga kehangatan tubuh bayi)
b. Warna
c. Pembengkakan atau bercak-bercak hitam ?
d. Tanda-tanda lahir
21. Konseling
a. Jaga kehangatan bayi
b. Pemberian ASI
c. Perawatan tali pusat
d. Agar ibu mengawai tanda-tanda bahaya
22. Tanda-tanda Bahaya Yang Harus Dikenali Ibu
a. Pemberian ASI sulit, sulit menghisap, atau hisapan lemah
b. Kesulitan bernapas (pernapasan cepat > 60 x/menit atau menggunakan otot napas tambahan)
c. Letargi (bayi terus-menerus tidur tanpa bangun untuk makan
d. Warna abnormal (kulit biru/sianosis atau bayi sangat kuning)
e. Suhu terlalu panas (febris) atau terlalu dingin (hipotermi)
f. Tanda atau perilaku abnormal atau tidak biasa
g. Gangguan gastrointestinal (tidak bertinja selama 3 hari pertama setelah lahir, muntah terus-menerus, muntah dan perut bengkak, tinja hijau tua atau berdarah/lendir
h. Mata bengkak atau mengeluarkan cairan


2. Penampilan Dan Perilaku Bayi Baru Lahir
No Kegiatan

1. Observasi tangisan Bayi
Tangisan pertama memungkinkan paru – paru untuk berkembang, menyertai pernapasan pertama BBL, menangis adalah suatu cara komunikasi
2. Observasi Susunan Pernapasan
Tugas pertama adalah bernapas sehingga ia dapat mengokssigenisasi sel-sel eritrositnya.Pernapasan pertama abdominal dan diafragmatik dan menjadi thoracal saat bayi duduk (6 bln) pernapasan tenang dan dangkal 30-40 x /menit
3. Observasi Susunan Kardiovaskuler
Terjadi perubahan sirkulasi darah. TD normal 80/46 mmHg pada saat lahir meningkat 100/50 mmHg pada hari ke 10
4. Observasi Suhu Tubuh
Segera setelah lahir suhu turun menjadi 33,5 C, hal ini terjadi karena permukaan kulit relative lebih luas, penguapan, penyesuain dari dalam uterus ke luar uterus
5. Observasi Susunan Pencernaan
Menghisap, menelan, adalah aktivitas utama mulut keduanya terkoordinasi secara erat.Volume lambung BBL 25-50 ml, hari ke 10 sampai 100 ml.Saat lahir PH saliva adalah 6 kmudian turun menjadi 2,5 dlm beberapa jam.Pencernaan banyak terjadi di usus kecil, makanan akan mencapai sekum dalam 3-4 jam.
6. Observasi Eliminasi
Mekonium, feses pertama dikeluarkan 8-24 jam setelah lahir,berwarna hitam kehijauan, lengket terdiri dari cairan empedu, sekresi usus, lemak, rambut, verniks caseosa yang tertelan selama kehidupan fetal bersama cairan amnion.
7. Observasi Susunan Ginjal
Jumlah urine yang diproduksi tergantung dari : tingkat perkembangan ginjal, jumlah cairan yangn masuk.8% bayi BAK tertunda hingga hari ke 2.Urine awal sekitar 20 ml dan bertambah sesuai jumlah cairan yang masuk.
8. Observasi Genetalia
a. Pada bayi laki-laki testis sudah turun diskrotum pada bayi aterm ( kehamilan 37 – 40 mg )
b. Pada bayi perempuan labia minor tampak lebih besar, keluar sekret mukoid agak berdarah keluar dari orifisium vagina.
9. Observasi Kulit
Neonatus prematur punya rambut lanugo yang menutupi kulit dan akn hilang pada bayi aterm.Selain itu juga terdapat pelumas seperti keju, verniks kaseosa berfungsi melindungi kulit selama dalam uterus.

C. Rencana Asuhan Bayi 2-6 Hari
Rencana asuhan pada bayi baru lahir usia 2 – 6 hari terdiri dari kebutuhan minum, buang air besar (BAB), buang air kecil (BAK), tidur, kebersihan kulit, keamanan. Kebutuhan – kebutuhan tersebut harus dipenuhi oleh ibu dan keluarga untuk tumbuh kembang bayi yang baik.
1. Pola minum
BBL normal dapat segera disusui hanya dalam waktu 1-2 menit pada setiap payudara. Pada hari ke 3 BBL harus sudah menyusu selama 10 menit pada mammae ibu dengan jarak max 3-4 jam. Bila dalam waktu kurang dari 1 jam bayi menangis maka boleh disusui pada 1 payudara secara bergantian.
Manfaat pemberian ASI, diantaranya :
a. ASI pertama (kolostrum) mengandung antibodi yang dapat mencegah infeksi 15 x lebih banyak dari ASI
b. Bayi yang minum ASI jarang menderita gastrointeritis
c. Lemak dan protein mudah dicerna oleh saluran pencernaan
d. Mempererat hubungan ibu dan bayi
e. Steril, mudah, murah, tersedia setiap saat dengan suhu optimal.
Kontra indikasi pemberian ASI, diantaranya :
a. Pada Ibu
1) Cracked nipple yang hebat
2) Abses mamma
3) Ca mamma
4) Ibu dengan penyakit jiwa
5) TBC, Hepatitis, HIV AIDS etc.
b. Pada Bayi
Kelainan konginetal (labiopalato skisis)
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi ibu dan bayi yang terdapat gangguan dalam pemberian ASI, terdapat alternatif pengganti ASI, diantaranya :
a. Menurut Rasa
1) Manis : Susu sapi yang diencerkan, SGM, S26
2) Asam : CAMELPO 2, ELEDON, DUMEX, CAP BENDERA ASAM, (susu asam yg sudah diencerkan lebih tahan terhadap kontaminasi daripada yang susu manis)
b. Menurut Kadar Nutrien
1) Rendah laktosa: ALMIRON, ISOMIL, SOBEF
2) Rendah lemak: ELEDON
c. Menurut Sumber Protein
Dari kedelai: SOBEE ISOMIL (diberikan pada bayi yang alergi terhadap susu ibu atau susu sapi)
d. Menurut penggunaannya
Bayi dengan gangguan penyerapan metabolic bawaan : lafenalak untuk bayi dengan fenilketonuria, partogen bayi dengan gangguan pencernaan lemak etc.
e. Menurut komposisi nutrien
1) Komposisi serupa ASI : vitalak, S26, nutrilon
2) Complete nutrisi : sem, lactogen, enfamil, morinaga
Volume pemberian pengganti ASI :
a. Pada BBL normal harus diberi minum dalam 2 jam sesudah lahir dengan volume pertama pemberian (hari ke 1) 30 ml/kg, hari ke 2 dst ditambah 20 ml.
Volume pemberian susu pada BBLR :
1) Umur 1 hari : 60 ml/kg
2) Umur 2 hari : 90 ml/kg
3) Umur 3 hari : 120 ml/kg
4) Umur 4 hari : 150 ml/kg
5) Umur 10 hari : 180 ml/kg
6) Umur 14 hari : 200 ml/kg
b. Pemberian susu untuk BBLR yang baru sembuh dari sakit :
1) Umur 1 hari : 20 ml/kg
2) Umur 2 hari : 40 ml/kg
3) Umur 3 hari : 60 ml/kg
4) Umur 4 hari : 80 ml/kg
5) Umur 5 hari : 100 ml/kg
6) Umur 6 hari : 120 ml/kg
7) Umur 7 hari : 150 ml/kg
c. Pada bayi dengan BB diatas 1.500 gr dapat dimulai dengan 3 ml/kg setiap 2 jam, dapat ditambah 1 ml – 20 ml/kg setiap pemberian, sebelumnya cairan lambung dikeluarkan.
d. Bila cairan yang dikeluarkan lebih dari 2 ml maka jumlah susu yang diberikan harus dikurangi jumlah cairan yang dikeluarkan.
Pemberian susu botol :
a. Bayi harus terjaga penuh. Botol dapat disimpan pada suhu kamar yang sebelumnya harus disterilkan dulu. Bila susu tidak habis dalam 1 x pemberian harus dibuang karena susu akan rusak
b. Bayi yang mengalami reaksi alergi terhadap susu formula dapat diganti dengan susu formula dari kedelai yang mempunyai jumlah protein lebih banyak dari susu formula dari susu sapi.
Cara menyimpan ASI :
a. Di udara terbuka : 6 – 8 jam
b. Di lemari es (4 C) : 24 jam
c. Di freser (-18 C) : 6 bulan
ASI dapat disimpan dalam lemari es selama 24 hingga 48 jam. Apabila tidak diberikan dalam 48 jam, maka ASI hanya dibekukan segera setelah dikeluarkan. ASI bisa dibekukan didalam frezer selama 6 bulan. Untuk mencairkannya tempat penyimpananya diletakkan didalam air hangat dan segera diberikan.ASI tidak boleh dibekukan ulang.


2. Pola BAK (Buang Air Kecil)
Urine adalah sisa hasil metabolisme dan pembakaran energi didalam tubuh yg sudah tidak diperlukan tubuh yang sebelumnya melewati proses filtrasi, reabsorbsi, sekresi, kemudian diekskresi melalui uretra.
Karakteristik BAK, diantaranya :
a. Volume
1) Dewasa : 250 ml – 400 ml
2) Anak-anak : 200 ml – 250 ml
3) Neonatus : 50 ml – 100 ml
4) Kapasitas BBL normalnya 44 ml, rata-rata setiap 5menit 0,05-0,10 ml
b. Warna
Kuning terang agak kekuningan dan juga hampir tidak berwarna (jernih, tidak ada sedimen) tergantung makanan atau pengganti ASI
c. Bau
Bau khas kadang tidak berbau.Semakin encer bau semakin lemah dan sebaliknya.
d. Komposisi
1) Air (96%)
2) Larutan (4%) :
a) Larutan organik : urea(terbesar), kreatin, asam urat
b) Larutan non organik : natrium (sodium, klorida kalium, sulfat, magnesium, fosfor, dan natrium klorida)
3. Pola BAB (Buang Air Besar)
a. BAB pada bayi dengan ASI
1) 48 jam pertama BAB bayi berupa mekonium lengket kehitaman, dan akan mengalami perubahan selama 2-3 minggu.
2) BAB berwarna coklat kehijauan dan dikeluarkan dalam jumlah sedikit dan sering (ngebrek). Kadang terdapat darah (darah selama persalinan yang tertelan), hal ini normal selama bayi sehat dan tetap mau menyusu
3) BAB bertahap akan berubah menjadi kuning terang, krem dan kental.BAB sering keluar / berkurang dan keluar dalam jumlah banyak setiap 3-4 hari.
b. BAB pada bayi dengan susu formula
1) BAB berbentuk padat, coklat, pucat, seperti BAB orang dewasa.BAB bau dan jarang keluar 2-3 hari sekali.
2) Jika 2-3 hari bayi baru BAB keras, kering dan sulit maka ia mengalami konstipasi hal ini perlu diperhatikan takaran pemberian PASI.
3) Pada bayi lebih dari 4 bulan boleh diberikan air jeruk, air sup kental hal ini akan melembutkan BAB.Pada saat penyapihan sayur, buah, dan air sari buah akan mengurangi gejala konstipasi.
4. Pola tidur
a. Pola tidur
1) Pola tidur normal minimal 14 jam sehari.BBL biasanya lebih banyak tidur hal ini adalah proses adaptasi dari intra ke ekstra uteri.
2) Bayi dibawah 1 bulan sering terbangun pada malam hari, ini berarti ia berusaha memenuhi nutrisi bagi tubuhnya.Jadi siklus tidur tergantung dari rasa lapar dan rasa puasnya.
b. Ciri-ciri tidur
1) Aktivitas fisik menurun
2) Tingkat kesadaran menurun
3) Perubahan proses fisiologis
4) Respon terhadap stimulasi dari luar menurun
c. Faktor yang mempengaruhi tidur
1) Sakit
2) Tahap perkembangan
3) Lingkungan
d. Fungsi tidur BBL
1) Pertumbuhan
2) Menyimpan energi
3) Mempertahankan suhu tubuh
e. Kebutuhan dasar
No Umur Tingkat perkembangan Jumlah kebutuhan tidur
1 0 -1 bln BBL 14-18 jam/hari
2 1 bln-18 bln Masa bayi 12-14 jam/hari
3 18 bln-3 th Masa anak 11-12 jam/hari
4 3 th-6 th Masa prasekolah 11 jam/hari
5 6 th-12 th Masa sekolah 10 jam/hari
6 12 th-18 th Masa Remaja 8,5 jam/hari
7 18 th-40 th Masa dewasa 7-8 jam/hari
8 40 th-60 th Masa tua paruh baya 7 jam/hari
9 60 th keatas Masa dewasa tua 6 jam/hari


f. Keadaan dan perilaku tidur
Keadaan Perilaku
Tidur Aktif Terdapat gerakan menghisap, sentakan halus hampir diikuti oleh beberapa kali gerakan otot yang jelas terdapat mimik wajah yang berubah, tersenyum dan tremor terdapat pergerakan ekstremitas dan pergerakan tubuh, pergerakan mata dan pernapasan yang tidak teratur terjadi bersamaan
Tidur Lelap Pergerakan minimal tonus otot meningkat dibandingkan tidur aktif.pernapasan 25 x / menit atau kurang
Tidur yang tidak dapat ditetapkan Mata terbuka dengan aktivitas yang jelas, suara terdengar vokal, pergerakan motorik kasar terus menerus terjadi.

5. Pola kebersihan
a. Memandikan
1) Mandi yang pertama ditunda sampai temperatur 36,50 c - 370 c (2 jam ). Pertimbangan penting dalam membersihkan kulit adalah : mempertahankan keasaman kulit, yang terbentuk dari lapisan epidermis teratas, keringat, dan lemak.
2) Tujuan memandikan : membersihkan seluruh tubuh, mengobservasi keadaan, memperlancar peredaran darah, memberi rasa nyaman, mensosialisasikan orang tua, anak dan keluarga.
b. Pakaian
1) Pakaian bayi harus sering diganti setiap kali basah (bab/bak). Pakaian bayi harus dicuci dengan deterjen dan air hangat, dibilas 2 x dan dikeringkan dibawah sinar matahari untuk menetralkan residu.
2) Popok bayi usakan yang mempunyai daya serap tinggi sehingga kulit dapat kering dan bisa diproteksi.
6. Keamanan
Suatu keadaan bebas dari cidera baik cidera fisik maupun cidera psikologis.
Pengurangan Bahaya Fisik :
a. Pencahayaan yang cukup
b. Mengurangi penghalang fisik
c. Kontrol bahaya dikamar mandi : pertama masukkan air dingin lalu air panas dan cek temperatur dengan termometer/ siku (30-32 °C)
d. Ditempat tidur : singkirkan botol air panas, jangan memakai oto
e. Di kereta dorong : cek rem, periksa apa ada baut yang lepas, gunakan pengganjal
f. Jangan mengganjal botol minum saat bayi tidur












ASUHAN PADA BAYI SAMPAI USIA 6 MINGGU


A. Asuhan Primer Pada Bayi 6 Minggu Pertama
Asuhan pada bayi sampai usia 6 minggu dikhususkan pada Bounding Attachment (Ikatan Kasih Sayang Orang Tua dan Bayi). Rutinitas untuk dilakukan Bounding Attachment harus lebih ditingkatkan. Bounding merupakan saat dimulainya interaksi emosi, sensori, fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir (Nelson, 1986), sedangkan attachment merupakan ikatan efektif yang terjalin diantara dua individu meliputi pencurahan perhatian, hubungan emosi dan fisik yang akrab (Nelson, 1986).
Tujuan dilakukannya Bounding Attachment adalah bagi bayi terciptanya rasa kasih sayang dan rasa aman yang diberikan oleh orang tua kepadanya. Sedangkan untuk ibu yaitu wujud mencurahkan kasih sayang kepada buah hatinya, mengalihkan perhatian waktu perineum dijahit pada kala IV, meningkatkan produksi ASI serta mempercepat pelepasan plasenta.
1. Peran Bidan Pada Bayi Sehat
Untuk bisa melaksanakan asuhan kebidanan yang komprehensif pada bayi baru lahir, bayi dan balita, diperlukan bidan yang memiliki kompetensi-kompetensi sesuai yang terlampir dibawah yaitu :
a. Asuhan pada bayi baru lahir
Kompetensi ke 6 : Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada bayi baru lahir sehat sampai dengan 1 bulan.
1) Pengetahuan dasar :
a) Adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan di luar uterus
b) Kebutuhan dasar bayi baru lahir : kebersihan jalan nafas, perawatan tali pusat, kehangatan, nutrisi bonding attachment
c) Indikator pengkajian bayi baru lahir misalnya nilai APGAR
d) Penampilan dan perilaku bayi baru lahir
e) Tumbuh kembang yang mormal pada bayi baru lahir sampai usia 1 bulan
f) Masalah yang lazim terjadi pada bayi baru lahir normal spt caput, molding, mongolian spot, hemangioma
g) Komplikasi yang lazim terjadi pada bayi baru lahir normal spt : hypoglikemi, hypotermi, dehidrasi, diare dan infeksi, ikterus
h) Promosi kesehatan dan pencegahan penyakit pada BBL sampai 1 bulan
i) Keuntungan dan resiko imunisasi pada bayi
j) Pertumbuhan dan perkembangan bayi premature
k) Komplikasi tertentu pada BBL seperti : trauma intra cranial, fraktur clavikula, kematian mendadak dan hematoma
2) Pengetahuan tambahan
Sunat dan tindik pada bayi perempuan
3) Keterampilan dasar
a) Membersihkan jalan nafas dan memelihara kelancaran pernafasan
b) Menjaga kehangatan dan menghindari panas yang berlebihan
c) Menilai segera BBL seperti APGAR
d) Membersihkan badan bayi dan memberikan memberikan identitas
e) Melakukan pemeriksaan fisik yang terfokus pada BBL dan secreening untuk menemukan adanya tanda kelainan-kelainan pada BBL yang tidak memungkinkan untuk hidup
f) Mengatur posisi bayi pada waktu menyusu
g) Memberikan imunisasi pada bayi
h) Mengajarkan pada orang tua tentang tanda-tanda bahaya dan kapan harus membawa bayi untuk minta pertolongan medik
i) Melakukan tindakan pertolongan kegawatdaruratan pada BBL seperti : kesulitan bernafas/asfiksia, hypotermi, hypoglikemi
j) Memindahkan secara aman BBL ke fasilitas kegawatdaruratan apabila dimungkinkan
k) Mendokumentasikan temuan-temuan dan intervensi yang dilakukan
4) Keterampilan tambahan
a) Melakukan penilaian masa gestasi
b) Mengajarkan pada orang tua tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi yang normal dan asuhannya
c) Membantu orang tua dan keluarga untuk memperoleh sumber daya yang tersedia di masyarakat
d) Memberi dukungan pada orang tua selama masaberduka cita yang sebagai akibat bayi dengan cacat bawaan, keguguran dan kematian bayi
e) Memberi dukungan pada orang tua selama bayinya dalam perjalanan rujukan diakibatkan ke fasilitas perawatan kegawatdaruratan
f) Memberikan dukungan pada orang tua dengan kelahiran ganda
g) Melakukan sunat dan tindik pada bayi perempuan
b. Asuhan pada bayi dan balita
Kompetensi ke 7 : Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada bayi dan balita sehat (1 bulan-5 tahun).


1) Pengetahuan dasar
a) Keadaan kesehatan bayi dan balita di Indonesia meliputi: angka kesakitan, angka kematian, penyebab kesakitan dan kematian
b) Peran dan tanggung jawab orang tua dalam pemeliharaan bayi dan anak
c) Pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak normal serta factor-faktor yang mempengaruhinya
d) Kebutuhan fisik dan psikososial anak
e) Prinsip dan standar nutrisi pada bayi dan anak
f) Prinsip-prinsip komunikasi pada bayi dan anak
g) Prinsip keselamatan untuk bayi dan anak
h) Upaya pencegahan penyakit pada bayi dan anak misalnya pemberian imunisasi
i) Masalah-masalah yang lazim terjadi pada bayi normal spt gumoh/regurgitasi, diaperash dll serta penatalaksanaannya
j) Penyakit-penyakit yang sering terjadi pada bayi dan anak
k) Penyimpangan tumbuh kembang bayi dan anak serta penatalaksanaannya
l) Bahaya-bahaya yang sering terjadi pada bayi dan anak di dalam dan di luar rumah serta upaya pencegahannya
m) Kegawatdaruratan pada bayi dan anak serta penatalaksaannya
2) Keterampilan dasar
a) Melaksanakan pemantauan dan menstimulasi tumbuh kembang bayi dan anak
b) Melaksanakan penyuluhan pada orang tua tentang pencegahan bahaya-bahaya pada bayi dan anak sesuai dengan usia
c) Melaksanakan pemberian imunisasi pada bayi dan anak
d) Mengumpulkan data tentang riwayat kesh pada bayi dan anak yang terfokus pada gejala
e) Melakukan pemeriksaan fisik yang terfokus
f) Mengidentifikasi penyakit berdasarkan data dan pemeriksaan fisik
g) Melakukan pengobatan sesuai kewenangan, kolaborasi/ merujuk dengan cepat dan tepat sesuai dengan keadaan bayi dan anak
h) Menjelaskan pada orang tua tentang tindakan yang dilakukan
i) Melakukan pemeriksaan secara berkala pada bayi sesuai standar yang berlaku
j) Melaksanakan penyuluhan pada orang tua tentang pemeliharaan bayi dan anak
k) Melaksanakan penilaian status nutrisi pada bayi dan anak
l) Melaksanakan tindakan, kolaborasi/merujuk secara cepat sesuai keadaan bayi dan anak yang mengalami cidera dan kecelakaan
m) Mendokumentasikan temuan-temuan dan intervensi yang dilakukan
Berdasarkan kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh bidan diatas, peran bidan pada bayi sehat terdiri dari :
a. Observasi dan konseling kebutuhan minum
1) Menganjurkan ibu untuk segera menyusui bayinya selama 1 – 2 menit pada setiap payudara
2) Menganjurkan ibu untuk tidak membuang kolostrum dan memberikan pada bayinya
3) Menganjurkan ibu untuk menyusui 10 menit dengan jarak 3 – 4 jam (on demand)
4) Memberitahukan pada ibu bayi biasanya lapar 2 – 4 jam dan apabila lapar, menganjurkan ibu untuk segera menyusui bayinya
5) Memberitahukan mengenai kebutuhan minum pada bayi yaitu 60 ml/kgBB (pada hari ke 14 mencapai 200 ml/kgBB
b. Observasi dan konseling kebutuhan BAB
1) Memberitahukan pada ibu bahwa BAB bayi pada hari pertama sampai hari ketiga yaitu mekoneum (warna hitam kehijauan)
2) Memberitahukan pada ibu bahwa BAB bayi pada hari ke 4 – 5 tinja berwarna coklat kehijauan
3) Memberitahukan pada ibu bahwa BAB bayi pada hari selanjutnya (warna tinja tergantung jenis susu yang diminum). Bila ASI : warna kuning lembek, bila susu formula : keabu-abuan dengan bau sedikit menusuk
4) Memberitahukan pada ibu bahwa BAB bayi 3 – 8 x sehari
c. Observasi dan Konseling Kebutuhan BAK
1) Memberitahukan pada ibu bahwa bayi harus BAK dalam waktu 24 jam, kalau belum BAK perlu diwaspadai
2) Memberitahukan pada ibu bahwa urin bayi berwarna kuning pucat
3) Memberitahukan pada ibu bahwa BAK pada bayi sebanyak ± 4 – 5 x/hari
d. Observasi dan Konseling Kebutuhan Tidur
1) Memberitahukan pada ibu bahwa bayi memerlukan banyak tidur
2) Memberitahukan pada ibu bahwa status bayi sadar 2-3 jam beberapa hari pertama
3) Memberitahukan pada ibu bahwa bayi tampak semi koma saat tidur (meringis, tersenyum dengan gerakan bola mata cepat)
4) Memberitahukan pada ibu bahwa tidur bayi sehari rata-rata 20 jam

e. Observasi dan Konseling Kebutuhan Kebersihan Kulit
1) Memberitahukan pada ibu untuk menghindari pajanan dengan bahan keras dan iritatif (urin, faeces, air liur dan sisa makanan)
2) Memberitahukan pada ibu untuk mempertahankan hidrasi kulit
3) Memberitahukan pada ibu untuk menghindari gesekan khususnya daerah lipatan
4) Memberitahukan pada ibu untuk menggunakan produk yang memenuhi standar (tidak mengandung pewangi, pewarna, tidak menimbulkan reaksi pada mata dan kulit)
5) Setiap kali habis BAB/BAK, membersihkan daerah kelamin dan sekitarnya dengan air bersih lalu keringkan dengan handuk
6) Menggunakan popok/pakaian bayi yang terbuat dari katun/ kain yang menyerap keringat
7) Memandikan bayi 2 x sehari
8) Menggunakan sabun/shampo khusus untuk bayi, bahan lembut, mencegah iritasi/alergi
9) Kalau perlu oleskan baby oil pada daerah lipatan kulit yang lembab dan berkeringat
10) Memberitahukan pada ibu bahwa sampai 2 minggu setelah lahir, bayi sering tidur dan bangun diantara waktu menyusu
f. Observasi dan Konseling Kebutuhan Keamanan
1) Mengamati suhu tubuh bayi : normal 36-37,5 °C
2) Membersihkan mata yang lengket, infeksi mata ringan, bulu mata lengket waktu tidur/kotoran menggumpal ke sudut mata dibersihkan 2 x sehari dengan kapas hangat
3) Tempat tidur/keranjang jauh dari pintu
4) Pasang pagar pengaman di tempat tidur/keranjang, jarak kisi-kisi tidak terlalu lebar
5) Tempat tidur dari bahan kuat dan aman
6) Pada waktu bayi tidur selimuti dengan selimut tipis, bila cuaca dingin selimut tebal
7) Rasa aman psikologis dapat dilakukan dengan sering memeluk dan menggendong bayi. Hal ini diperoleh terutama dari ibu pada saat bayi menyusu
g. Observasi dan Konseling Kebutuhan Tanda-Tanda Bahaya
1) Pernafasan : sulit/lebih dari 60 kali/menit
2) Kehangatan : terlalu panas > 38°C atau terlalu dingi <36°C 3) Warna kulit : kulit (terutama pada 24 jam pertama), biru/pucat, memar 4) Pemberian makan : hisapan lemah, mengantuk berlebihan, rewel, banyak muntah 5) Tali pusat : merah, bengkak, keluar cairan bau busuk dan berdarah 6) Infeksi : suhu meningkat, merah, bengkak, keluar cairan pus, bau busuk, pernafasan sulit 7) Tinja/kemih : tidak BAB dalam 3 hari, tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, sering, hijau tua, ada lendir/darah dari tinja 8) Aktivitas : menggigil atau menangis yang tidak biasa, rewel, lemas, terlalu mengantuk, lunglai, kejang, kejang halus, tidak bisa tenang, menangis terus-menerus h. Observasi dan Konseling Kebutuhan Penyuluhan sebelum pulang 1) Kebersihan a) Selalu menjaga kebersihan dengan memandikan bayi 2 x sehari b) Ganti pakaian setiap kali habis mandi, BAB/BAK dan setiap kali pakaian basah/kotor c) Jaga kebersihan tempat tidur d) Selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi e) Menjaga kebersihan alat-alat (makan, mandi,dll) 2) Pemberian minum : berikan ASI 2-3 jam sekali/on demand dan menyendawakan bayi setiap kali habis minum 3) Pemberian ASI eksklusif : menyarankan supaya bayi hanya diberikan ASI saja sampai umur 4-6 bulan 4) Istirahat : bayi harus cukup istirahat untuk membantu pertumbuhannya 5) Beritahu bagaimana cara perawatan tali pusat 6) Imunisasi : memberitahu imunisasi yang telah diberikan dan jadwal imunisasi (bulan depan) 7) Kapan ibu harus membawa bayinya untuk kunjungan ulang 2. Bounding Attachment (Ikatan kasih sayang) a. Konsep Bounding Attachment Walaupun sudah banyak riset dilakukan untuk membuka tabir proses orang tua bisa mengasihi dan menyayangi anaknya dan seorang anak dapat menerima dan mengasihi orang tuanya. Para ahli masih tidak mengetahui apa motivasi tersebut. Hal ini disebut-sebut dengan attacment yaitu kasih sayang dan bonding yaitu ikatan : 1) Menurut brazelton (1978) • Bonding adalah suatu ketertarikan orang tua dan anak saat pertama kali mereka bertemu. • Attachment terjadi pada periode kritis seperti pada kelahiran atau adopsi. 2) Klaus, kennel, 1982 : hal ini menjelaskan suatu perasaan menyayangi loyalitas yang mengikat individu dengan individu lain. Hal ini bersifat unik spesifik dan bertahan lama. 3) Menurut mencer (1982) menulis 5 prakondisi yang mempengaruhi ikatan sebagai berikut : a) kesehatan emosional orang tua atau termasuk kemampuan untuk mempercayai orang tua. b) system dukungan social yang meliputi pasangan hidup, teman atau keluarga. c) suatu tingkat keterampilan dalam berkomunikasi dan dalam memberi asuhan yang kompeten. d) kedekatan orang tua dengan bayi. e) kecocokan orang tua dengan bayi (termasuk keadaan temperamen dan jenis kelamin bayi) 4) Stainton (1983) Ikatan adalah pertukaran perasuan karena adanya ketertarikan, respon dan kepuasan dan interaksinya bisa berubah bila keadaan berubah seiring perjalanan waktu. 5) Mencer (1982) : ikatan dipermudah untuk adanya umpan balik positif, meliputi respon social, verbal dan bukan verbal, baik yang sejati maupun bukan. 6) Bowlby (1958) dan Airsworth 1969, memperluas konsep ikatan menjadi MUTUALITAS : perilaku dan karakteristik bayi menyebabkan munculnya suatu perangkat perilaku karakteristik maternal yang sesuai. Dari pengertian-pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bounding adalah proses pembentukan sedangkan attachment (membangun ikatan) jadi bounding attachment adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi. Hal ini merupakan proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling membutuhkan. Bayi menunjukkan perilaku penanda (signaling behavior) seperti menangis, tersenyum dan mengeluarkan suara yang dapat menimbulkan kontak sehingga ibu segera mendekati anaknya. Kemudian dikuti untuk perilaku obsekutif seperti rooling, menggenggam, penyesuaian postur untuk mempertahankan kontak. Bagian terpenting dari ikatan adalah perkenalan. Respon orangtua memberi implikasi langsung terhadap perawatan anaknya. b. Respon Orang Tua Terhadap BBL Pada periode awal : orang tua harus mengenali hubungan mereka dengan bayinya. Dimana bayi perlu perlindungan, perawatan dan sosialisasi. Periode ini ditandai dengan masa pembelajaran yang intensif dan tuntutan untuk mengasuh. Struktur dan fungsi keluarga sebagai suatu sistem telah diubah untuk selama-lamanya. Lama periode ini bervariasi tetapi biasanya berlangsung kurang lebih 4 minggu Periode kedua adalah : periode untuk bersama-sama membangun kesatuan keluarga. Periode waktu berkonsolidasi meliputi peran negoisasi (suami-istri, ayah-ibu,orang tua-anak, saudara-saudara). Orang tua mendemonstrasikan kompetensi yang menarik tinggi dalam menjalankan aktifitas merawat bayi dan menjadi lebih sensitive terhadap makna perilaku bayi. Berlangsung 2 bulan disebut sebagai trisemester ke empat. c. Cara untuk melakukan bounding ada bermacam-macam antara lain: 1) Pemberian ASI ekslusif Dengan dilakukannya pemberian ASI secara ekslusif segera setelah lahir, secara langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang menjadikan ibu merasa bangga dan diperlukan, rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia. 2) Rawat gabung Rawat gabung merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar antara ibu dan bayi terjalin proses lekat (early infant mother bounding) akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang merasa aman dan terlindung, merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri dikemudian hari. Dengan memberikan ASI ekslusif, ibu merasakan kepuasan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Keadaan ini juga memperlancar produksi ASI, karena refleks let-down bersifat psikosomatis. Ibu akan merasa bangga karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila ayah bayi berkunjung akan terasa adanya suatu kesatuan keluarga. 3) Kontak mata Beberapa ibu berkata begitu bayinya bisa memandang mereka,mereka merasa lebih dekat dengan bayinya. Orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Seringkali dalam posisi bertatapan. Bayi baru lahir dapat diletakkan lebih dekat untuk dapat melihat pada orang tuanya. 4) Suara Mendengar dan merenspon suara antara orang tua dan bayinya sangat penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayi mereka dengan tegang. Suara tersebut membuat mereka yakin bahwa bayinya dalam keadaan sehat. Tangis tersebut membuat mereka melakukan tindakan menghibur. Sewaktu orang tua berbicara dengan nada suara tinggi, bayi akan menjadi tenang dan berpaling kearah mereka. 5) Aroma Setiap anak memiliki aroma yang unik dan bayi belajar dengan cepat untuk mengenali aroma susu ibunya. 6) Entertainment Bayi mengembangkan irama akibat kebiasaan. Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyangkan tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki. Entrainment terjadi pada saat anak mulai bicara. 7) Bioritme Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. 8) Inisiasi Dini Setelah bayi lahir, dengan segera bayi ditempatkan diatas ibu. Ia akan merangkak dan mencari puting susu ibunya. Dengan demikian, bayi dapat melakukan reflek suckling dengan segera. d. Berhasil atau tidaknya proses bounding attachment ini sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi sebagai berikut : 1) Kesehatan emosional orang tua Orang tua yang mengharapkan kehadiran si anak dalam kehidupannya tentu akan memberikan respon emosi yang berbeda dengan orang tua yang tidak menginginkan kelahiran bayi tersebut. Respon emosi yang positif dapat membantu tercapainya proses bounding attachment ini. 2) Tingkat kemampuan, komunikasi dan ketrampilan untuk merawat anak Dalam berkomunikasi dan ketrampilan dalam merawat anak, orang tua satu dengan yang lain tentu tidak sama tergantung pada kemampuan yang dimiliki masing-masing. Semakin cakap orang tua dalam merawat bayinya maka akan semakin mudah pula bounding attachment terwujud. 3) Dukungan sosial seperti keluarga, teman dan pasangan Dukungan dari keluarga, teman, terutama pasangan merupakan faktor yang juga penting untuk diperhatikan karena dengan adanya dukungan dari orang-orang terdekat akan memberikan suatu semangat / dorongan positif yang kuat bagi ibu untuk memberikan kasih sayang yang penuh kepada bayinya. 4) Kedekatan orang tua ke anak Dengan metode rooming in kedekatan antara orang tua dan anak dapat terjalin secara langsung dan menjadikan cepatnya ikatan batin terwujud diantara keduanya. 5) Kesesuaian antara orang tua dan anak (keadaan anak, jenis kelamin) Anak akan lebih mudah diterima oleh anggota keluarga yang lain ketika keadaan anak sehat / normal dan jenis kelamin sesuai dengan yang diharapkan. e. Beberapa hal yang dapat dilakukan seorang laki-laki dalam proses perubahan peran menjadi seorang ayah, diantaranya : 1) Ketika ibu hamil, seorang suami akan merasa bangga karena dia akan mempunyai keturunan dan dia akan menjadi seorang ayah. 2) Ketika bayi lahir, maka suami akan merasa bahagia dan juga prihatin yang disebabkan oleh: a) Cemas akan biaya persalinan dan perawatan bayinya kelak b) Kekhawatiran adanya kecacatan pada bayinya, antara lain : kecewa, gelisah tentang bagaimana perawatan bayi dan bagaimana nasibnya kelak, dan lain sebagainya. c) Gelisah tentang kemampuan merawat dan mendidik anaknya (pesimis akan keberhasilannya sebagai seorang ayah) d) Harapan orang tua tidak sesuai dengan kenyataan, khususnya maasalah jenis kelamin. f. Standardisasi cara mengevaluasi interaksi orang tua – bayi telah dikemukakan oleh Gray dan asosiasinya pada tahun 1975: Skor Bounding Bagaimana Tindakan Ibu Terhadap Bayinya Memandang Berkata Melakukan Sesuatu 1. Sangat negatif, tidak tepat 2. Agak negatif, tidak tepat 3. Agak positif, sesuai Penampilan umum : depresi, ketakutan, marah, apatis Membuat suatu sebutan bagi bayi dan suaminya : memperlihatkan permusuhan atau rasa kecewa terhadap jenis kelamin bayinya Memfokuskan perhatian pada dirinya, menolak untuk melihat ke arah bayinya, menangis 4. Sangat positif, sesuai Sangat gembira, bahagia, antusias Berbicara langsung pada bayi, menggunakan nama bayinya, memperlihatkan reaksi positif Mengulurkan tangan ingin memegang, memeriksa, membuat kontak mata dengan bayinya Terdiri dari tiga observasi yang dibuat di ruang bersalin selama dan segera setelah bayi lahir dan kembali selama dua sampai tiga hari periode post partum. Nilai 1-4 diberikan dalam setiap observasi dan nilai tersebut dijumlahkan dalam setiap periode. Interaksi yang sangat positif akan memberikan nilai 10 sampai 12 untuk setiap periode. Interaksi sangat negatif akan memberikan skor 3-6. Konseling tindak lajut bagi orang tua dengan skor yang rendah merupakan indikasi untuk mencegah penyalahgunaan akan dan mengajarkan cara pengasuhan anak. g. Tugas dan tanggung jawab orang tua : 1) orang tua harus menerima keadaan anaknya yang sebenarnya tidak terus terbawa dengan khayalan dan impian tentang figure anak idealnya. 2) orang tua perlu menyakini bahwa bayi baru lahirnya adalah pribadi yang terpisahkan dari diri mereka sehingga perlu perawatan. 3) orang tua harus bisa cara perawatan anak atau bayinya. 4) orang tua harus menetapkan criteria evaluasi yang baik dan dapat dipakai untuk menilai kesuksesan atau kegagalan hal-hal yang dilakukan bayinya, seperti dapat memandang orang tuanya dengan baik dan dapat mengikuti wajar orang tuanyaketika ia sedang diajak bicara. Pemenuhan kebutuhan emosi dan kasih sayang dapat dimulai sendiri mungkin bahkan sejak anak berada dalam kandungan, perlu diupayakan kontak psikologis antara ibu dan anak misal dengan mengajak berbicara atau mengelusnya. Setelah lahir upaya tersebut dapat dilakukan dengan mendekapkan bayi ke dada ibu segera setelah lahir. Ikatan emosi dan kasih sayang yang erat antara ibu atau orang tua dengan anak sangatlah penting, karena berguna untuk menentukan perilaku anak dikemudian hari. Merangsang perkembangan otak anak serta merangsang perhatian anak terhadap dunia luar. Orang tua yang harmonis akan mendidik dan membimbing anak dengan penuh kasih sayang. kasih sayang tidak bearti memanjakan atau tak pernah memarahi sehingga bagaimana orang tua menciptakan hubungan yang hangat dengan anak sehingga anak merasa senang dan aman. Perkembangan bayi normal sebagian tergantung pada sederetan pertukaran respons penuh kasih sayang antara ibu dan bayi yang baru dilahirkanya. Bersatu secar psikologis dan fisiologis, ikatan ini dipermudah dan diperkuat oleh dukungan emosional kecintaan dari suami dan keluarga. Proses pendekatan ini mungkin penting untuk memampukan beberapa ibu merawat anaknya dengan cinta kasih selama masa neonatus dan selanjutnya selama masa kanak-kanak, proses ini di mulai sejak anak belum lahir dengan perencanaan dan konfirmasi kehamilan serta menerima janin yang tumbuh sebagai individu. Sebuah persalinan dan selama minggu-minggu berikutnya. Kontak visual dan fisik antara ibu dan bayinya memicu berbagai penghargaan satu sama lain dan interaksi yang menyenangkan seperti sentuhan ibu pada tungkai dan muka bayi dengan ujung-ujung jari dan memeluk serta memijat badan bayi secara halus dengan tangannya. Sentuhan pada pipi bayi menimbulkan putaran responsive kearah muka ibunya atau kearah payudara dan mengusap-usapnya menggunakan hidung serta menjilat putingnya, rangsangan yang kuat untuk sekresi pro laktin. Keadaan bayi yang waspada dan tenang pada mulanya memberikan kesempatan untuk kontak mata dengan mata yang terutama penting dalam merangsang rasa cinta dan perasaan memiliki banyak orang tua pada bayinya. Tangisan bayi mendatangkan respon sentuhan ibu untuk bayinya dan berbicara dengan nada yang lebih tinggi, suara yang lembut dan menenangkan. Kontak awal antara ibu dan bayinya harus sudah terjadi di kamar bersalin, dan kesempatan untuk memperluas kontak intim harus diberikan dalam jam-jam pertama sesudah lahir. Ikatan antara bayi dan ibu yang tertunda atau abnormal, terjadi karena prematuritas, bayi atau ibu sakit, cacat lahir atau stress kelurga, dapat membahayakan perkembangan bayi dan kemampuan ibu untuk mengurus bayinya. Kerutinan rumah sakit harus dirancang untuk menunjang kontak antara orang tua dan bayi. h. Adaptasi Saudara Kandung Faktor yang mempengaruhi respon seorang anak antara lain : 1) Umur 2) Sikap ortu 3) Peran ayah 4) Lama waktu berpisah dengan ibu 5) Peraturan kunjungan di RS 6) Bagaimana anak itu dipersiapkan untuk suatu perubahan Seorang ibu yang memiliki anak harus menyediakan banyak waktu dan tenaga untuk mengorganisasi kembali hubunganya dengan anak-anaknya. Ia perlu mempersiapkan anak-anaknya untuk menyambut kelahiran sang bayi dan memulai proses perubahan peran dalam keluarganya dengan melibatkan anak-anaknyadalam kehamilan dan bersikap simpatik terhadap protes anak-anak yang lebih besar karena mereka kehilangan tempat dalam keluarga. Tidak ada anak yang rela menyerahkan posisinya dalam keluarga. Respon saudara kandung terhadap kehamilan berbeda –beda, bergantung pada usia dan kebutuhan mereka. Anak usia satu tahun mungkin tidak banyak menyadari proses ini, tetapi anak usia dua tahun memperhatikan perubahan pada penampilan ibunya dan mungkin berkomentar. Kebutuhan anak usia dua tahun akan lingkungan yang sama membuat anak itu sadar akan adanya perubahan. Balita mungkin menunjukkan perilaku yang lebih kolokandan mungkin menunjukkan kemunduran perilaku saat makan dan BAB atau BAK. Pada usia 3 atau 4 tahun, anak-anak ingin diceritakan asal mula mereka dan dan menerima sebagai hal yang sama dengan kehamilan ibu pada saat ini. Mereka senng mendengar bunyi jantung da merasakan gerakan bayi di dalam rahim. Kadang-kadang mereka khawatir bagaimana bayi memperoleh makanan dan pakaian apa yang dikenakan. Anak usia sekolah lebih menunjukkan minat klinis terhadap kehamilan ibunya. Mereka ingin tahu lebih secara terinci, “ bagaimana bayi dapat masuk ke dalam sana?” dan “ bagaiman ia dapat keluar?” anak dalam kelompok usia ini memperhatikan wanita hamil yang mereka lihat di toko, di gereja, dan di sekolah, dan kadang-kadang malu jika mereka harus menghampiri ibu hamil secara langsung. Pada hakikatnya anak menantikan kedatangan bayi baru, melihat diri mereka sebagai ibu atau ayah dan menikmati berbelanja keperluan bayi dan mempersiapkan tempat untuk bayi. Karena mereka masih berfikir secara konkret dan pemikirannya didasarkan pada kondisi saat ini dan di tempat ini, mereka berespon positif terhadap kesehatan ibunya yang baik pada saat ini. Remaja awal dan pertengahan, yang pikirannya masih dipenuhi pengenalan akan identitas seksual mereka, mungkin mengalami kesulitan untuk menerima bukti nyata aktiv seksual orang tua mereka. Mereka berpikir, jika mereka masih terlalu muda untuk aktivitas tersebut, tentunya orang tua mereka terlalu tua untuk hal itu. Mereka memandang peran orang tua mereka dengan kritis dan bertanya, “ apa yang orang lain pikir ?” atau “ bagaimana kamu membiarkan dirimu menjadi begitu gendut?” banyak wanita hamil, yang memiliki anak remaja. Mengakui bahwa anak remaja merupakan faktor yang paling sulit dalam kehamilan mereka saat ini. Remaja lanjut tampak tidak begitu peduli. Mereka berpikir mereka segera akan keluar dari rumah. Orang tua biasanya menyatakan bahwa anak mereka bersikap menyenangkan dan bertindak lebih sebagai orang dewasa dari pada sebagai anak-anak. 3. Rencana Asuhan No Prosedur Observasi dan Konseling Kebutuhan Bounding Attachment saat masa postnatal Rooming in (lingkungan yang memungkinkan untuk terjalinnya ikatan kasih sayang) 1. Mengganti popok a. Setiap kali habis BAB/BAK, membersihkan daerah kelamin dan sekitarnya dengan air bersih lalu keringkan dengan handuk b. Menggunakan popok/pakaian bayi yang terbuat dari katun/ kain yang menyerap keringat 2. Cara menyusui yang benar A. Sikap dan perilaku a. Menyambut klien dan keluarga dengan sopan dan ramah b. Memperkenalkan diri kepada klien dan keluarga c. Mempersilahkan klien duduk dan merasa nyaman d. Tanggap terhadap reaksi klien dan kontak mata e. Menjelaskan dengan sabar dan teliti B. Prosedur tindakan a. Menjelaskan prosedur tindakan yang akan dilakukan b. Mencuci tangan c. Meminta klien untuk mencuci tangan d. Membantu klien membuka pakaian untuk menyusui e. Memberi kesempatan klien memperagakan cara menyusui menurut klien f. Klien duduk dengan santai dan nyaman g. Mengoleskan ASI sedikit pada putting susu dan areola sekitarnya h. Bayi diletakkan menghadap perut klien/payudara i. Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siku ibu dan bokong bayi terletak pada lengan j. Satu tangan bayi diletakkan di belakang badan ibu, dan yang satu didepan k. Perut bayi menempel badan ibu, kepala bayi menghadap payudara l. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus m. Ibu menatap bayi dengan kasih sayang n. Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang di bawah. Jangan menekan putting susu atau areolanya saja o. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut dengan cara menyentuh pipi dengan putting susu atau menyentuh sisi mulut bayi p. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dengan putting serta areola dimasukkan ke mulut bayi q. Usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke dalam mulut bayi r. Setelah bayi mulai mengisap, payudara tidak perlu dipegang atau disangga lagi s. Melepas isapan bayi : • Jari kelingking dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut atau • Dagu bayi ditekan ke bawah t. Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada putting susu dan areola sekitarnya. Biarkan kering dengan sendirinya u. Menyendawakan bayi : • Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu kemudian punggung ditepuk perlahan-lahan atau • Bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan v. Selalu menyusukan dengan kedua payudara secara bergantian w. Bayi disusui secara on demand x. Bayi sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit y. ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam 2 jam dan menjadi lapar z. Pada awalnya bayi menyusu dengan jadwal yang tidak teratur, dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu kemudian C. a. Memberikan konseling secara sistematis b. Meminimalkan intervensi tangan dalam memberikan konseling c. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti d. Memberikan follow up dengan baik e. Mendokumentasikan penyuluhannya 3. Memandikan bayi A. Sikap dan perilaku a. Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan b. Bersikap sopan c. Memegang bayi dengan lembut d. Menjaga kehangatan bayi e. Menunjukkan rasa empati terhadap bayi B. Prosedur tindakan a. Cuci tangan dengan sabun dan air b. Menyiapkan dan mendekatkan keperluan mandi c. Memastikan ruangan dalam keadaan hangat d. Menyiapkan air hangat, tidak terlalu panas dalam bak mandi e. Melepaskan pakaian bayi f. Membersihkan tinja dari daerah pantat sebelum dimandikan agar air mandi tetap segar g. Menyangga kepala bayi sambil mengusapkan air ke muka, tali pusat dan tubuh bayi h. Meletakkan bayi pada selembar handuk i. Cuci mukanya terlebih dahulu kemudian sabuni seluruh badan bayi (jangan memberi sabun pada muka) j. Cuci tali pusat dengan air bersih dan sabun, bersihkan dan keringkan seluruhnya k. Jika bayi laki-laki tarik katup (preputium) ke belakang dan bersihkan. Bila bayi perempuan bersihkan labia mayora dan minora l. Tempatkan bayi kedalam bak mandi sambil menyangga kepala dan punggungnya. Bilaslah sabun dengan cepat (tidak perlu menghilangkan verniks) m. Keringkan betul-betul bayi dengan handuk hangat dan kering n. Tempatkan bayi pada alas dan popok yang hangat dan kering (singkirkan handuk basah ke pinggir) o. Melakukan perawatan tali pusat p. Mengenakan pakaian yang bersih dan kering q. Bungkus bayi dengan selimut yang bersih dan kering r. Mengembalikan ke tempat semula/diberikan ke ibu untuk disusui s. Membersihkan alat t. Cuci tangan C. Teknik a. Melaksanakan secara sistematis dan berurutan b. Berkomunikasi dengan bayi c. Percaya diri dan tidak ragu-ragu d. Melakukan tindakan dengan hati-hati dan teliti e. Mendukung ibu untuk kooperatif   PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG NEONATUS, BAYI DAN ANAK BALITA A. Pengertian 1. Pertumbuhan Pertumbuhan adalah bertambah jumlah dan besarnya sel diseluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur (Whalley dan Wong, 2000). Pertumbuhan adalah adanya perubahan dalam jumlah akibat pertambahan sel dan pembentukan protein baru sehingga meningkatkan jumlah dan ukuran sel diseluruh bagian tubuh (Sutjiningsih, 1998) 2. Perkembangan Perkembangan adalah bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh kematangan dan belajar (Whalley dan Wong, 2000). Perkembangan adalah pertumbuhan dan perluasan secara peningkatan sederhana menjadi komplek dan meluasnya kemampuan individu untuk berfungsi dengan baik (Sutjiningsih,1998) B. Pola Pertumbuhan Dan Perkembangan Yaitu peristiwa yang terjadi selama proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak. 1. Pola perkembangan fisik yang terarah Terdiri dari dua prinsip yaitu cephalocaudal dan proximal distal (Wong, 1995). a. Cephalocaudal adalah pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari kepala yang ditandai dengan perubahan ukuran kepala yang lebih besar, kemudian berkembang kemampuan untuk menggerakkan lebih cepat dengan menggelengkan kepala dan dilanjutkan ke bagian ekstremitas bawah lengan ,tangan dan kaki b. Proximaldistal yaitu pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dengan menggerakkan anggota gerak yang paling dekat dengan pusat/sumbu tengah, seperti menggerakkan bahu dahulu baru kemudian jari-jari. 2. Pola perkembangan dari umum ke khusus Yaitu pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dengan menggerakkan daerah yang lebih umum (sederhana) dahulu baru kemudian daerah yang lebih kompleks. Misalnya melambaikan tangan kemudian memainkan jari. 3. Pola perkembangan berlangsung dalam tahapan perkembangan Pola ini mencerminkan ciri khusus dalam setiap tahapan perkembangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi dini perkembangan selanjutnya. Pada masa ini dibagi menjadi lima tahap yaitu : a. Masa pra lahir, terjadi pertumbuhan yang sangat cepat padaalatdan jaringan tubuh b. Masa neonatus, terjadi proses penyesuaian dengan kehidupan di luar rahim dan hampir sedikit aspek pertumbuhan fisik dalam perubahan c. Masa bayi, terjadi perkembangan sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhinya dan mempunyai kemampuan untuk melindungi dan menghindari dari hal yang mengancam dirinya d. Masa anak, terjadi perkembangan yang cepat dalam aspek sifat, sikap, minat dan cara penyesuaian dengan lingkungan e. Masa remaja, terjadi perubahan kearah dewasa sehingga kematangan pada tanda-tanda pubertas 4. Pola perkembangan dipengaruhi oleh kematangan dan latihan/belajar Terdapat saat yang siap untuk menerima sesuatu dari luar untuk mencapai proses kematangan dan kematangan yang dicapainya dapat disempurnakan melalui rnagsangan yang tepat. Masa ini merupakan masa kritis yangharus dirangsang agar mencapai perkembangan selanjutnya melalui proses belajar (Gunarsa dalam Hidayat, 2005) C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang 1. Faktor herediter Merupakan faktor pertumbuhan yang dapat diturunkan yaitu suku, ras, dan jenis kelamin (Marlow, 1988 dalam Supartini, 2004). Jenis kelamin ditentukan sejak dalam kandungan. Anak laki-laki setelah lahir cenderung lebih besar dan tinggi dari pada anak perempuan, hal ini akan nampak saat anak sudah mengalami masa pra-pubertas. Ras dan suku bangsa juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan. Misalnya suku bangsa Asia memiliki tubuh yang lebih pendek dari pada orang Eropa atau suku Asmat dari Irian berkulit hitam 2. Faktor lingkungan a. Lingkungan pra-natal Kondisi lingkungan yang mempengaruhi fetus dalam uterus yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin antara lain gangguan nutrisi karena ibu kurang mendapat asupan gizi yang baik, gangguan endokrin pada ibu (diabetes mellitus), ibu yang mendapatkan terapi sitostatika atau mengalami infeksi rubela, toxoplasmosis, sifilis dan herpes. Faktor lingkungan yang lain adalah radiasi yang dapat menyebabkan kerusakan pada organ otak janin. b. Lingkungan pos-natal Lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan setelah bayi lahir adalah : 1) Nutrisi Nutrisi adalah salah satu komponen yang penting dalam menunjang keberlangsungan proses pertumbuhan dan perkembangan. Terdapat kebutuhan zat gizi yang diperlukan seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin dan air.Apabila kebutuhan tersebut tidak atau kurang terpenuhi maka dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Asupan nutrisi yang berlebihan juga berdampak buruk bagi kesehatan anak, yaitu terjadi penumpukan kadar lemak yang berlebihan dalam sel/jaringan bahkan pada pembuluh darah. Penyebab status nutrisi kurang pada anak : a) Asupan nutrisi yang tidak adekuat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif b) Hiperaktivitas fisik/ istirahat yang kurang c) Adanya penyakit yang menyebabkan peningkatan kebutuhan nutrisi d) Sters emosi yang dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau absorbsi makanan tidak adekuat 2) Budaya lingkungan Budaya keluarga atau masyarakat akan mempengaruhi bagaimana mereka dalam mempersepsikan dan memahami kesehatan dan perilaku hidup sehat. Pola perilaku ibu hamil dipengaruhi oleh budaya yang dianutnya, misalnya larangan untuk makan makanan tertentu padahal zat gizi tersebut dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Keyakinan untuk melahirkan di dukun beranak dari pada di tenaga kesehatan. Setelah anak lahir dibesarkan di lingkungan atau berdasarkan lingkungan budaya masyarakat setempat. 3) Status sosial dan ekonomi keluarga Anak yang dibesarkan di keluarga yang nerekonomi tinggi untuk pemenuhan kebutuhan gizi akan tercukupi dengan baik dibandingkan dengan anak yang dibesarkan di keluarga yang berekonomi sedang atau kurang. Demikian juga dengan status pendidikan orang tua, keluarga dengan pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima arahan terutama tentang peningkatan pertumbuhan dan perkembangan anak, penggunaan fasilitas kesehatan dll dibandingka dengan keluarga dengan latar belakang pendidikan rendah. 4) Iklim/cuaca Iklim tertentu akan mempengaruhi status kesehatan anak misalnya musim penghujan akan dapat menimbulkan banjir sehingga menyebabkan sulitnya transportasi untuk mendapatkan bahan makanan, timbul penyakit menular,dan penyakit kulit yang dapat menyerang bayi dan anak-anak. Anak yang tinggal di daerah endemik misalnya endemik demam berdarah, jika terjadi perubahan cuaca wabah demam berdarah akan meningkat. 5) Olahraga/latihan fisik Manfaat olah raga atau latihan fisikyang teratur akan meningkatkan sirkulasi darah sehingga meningkatkan suplai oksigen ke seluruh tubuh, meningkatkan aktivitas fisik dan menstimulasi perkembangan otot dan jaringan sel. 6) Posisi anak dalam keluarga Posisi anak sebagai anak tunggal, anak sulung, anak tengah atau anak bungsu akan mempengaruhi pola perkembangan anak tersebut diasuh dan dididik dalam keluarga. 7) Status kesehatan Status kesehatan anak dapat berpengaruh pada pencapaian pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini dapat terlihat apabila anak dalm kondisi sehat dan sejahtera maka percepatan pertumbuhan dan perkembangan akan lebih mudah dibandingkan dengan anak dalam kondisi sakit. 8) Faktor Hormonal Faktor hormonal yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak adalah somatotropon yang berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan, hormon tiroid dengan mestimulasi metabolisme tubuh, glukokortiroid yang berfungsi menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari testis untuk memproduksi testosteron dan ovarium untuk memproduksi estrogen selanjutnya hormon tersebut akan menstimulasi perkembangan seks baik pada anak laki-laki maupun perempuan sesuai dengan peran hormonnya. D. Kebutuhan Dasar Tumbuh Kembang 1. Kebutuhan fisis-biomedis (asuh) Meliputi kebutuhan akan nutrisi yang adekuat dan seimbang (merupakan kebutuhan asuh yang terpenting) perawatan kesehatan dasar, pakaian, perumahan, hygiene dan sanitasi lingkungan, olahraga dan rekreasi. Yaitu kebutuhan terhadap emosi, antara lain : kasih sayang orangtua, rasa aman, harga diri, kebutuhan akan sukses, mandiri, dorongan, kebutuhan mendapatkan kesempatan dan rasa aman, rasa memiliki. 2. Kebutuhan kasih sayang/emosi (asih) Yaitu kebutuhan terhagap emosi, antara lain : kasih sayang orangtua, rasa aman, harga diri, kebutuhan akan sukses, mandiri, dorongan, kebutuhan mendapatkan kesempatan dan rasa aman, rasa memiliki. 3. Kebutuhan stimulasi (asah) Yang dimaksud stimulasi disini adalah perangsangan yang datang dari lingkungan luar anak antara lain latihan atau bermain, kontak mata, komunikasi verbal. Melalui bermain, anak bisa belajar mengendalikan dan mengkoordinasikan otot-ototnya melibatkan emosi dan pikiran. Sehingga anak mendapat pengalaman hidup. Pemenuhan kebutuhan emosi (asih) dapat dipenuhi dengan cara melakukan kontak sedini mungki bayi dan ibu (inisiasi dini). Keadaan ini akan menimbulkan kontak fisik (kontak kulit), psikis (kontak mata), suara dan penciuman sedini mungkin yang turut memegang peran penting terhadap keberhasilan menyusui. Dengan mendekap bayi pada saat menyusui, mengajaknya berbicara dengan penuh kasing sayang, seorang ibu sudah memenuhi kebutuhan bayi akan stimulasi (asah), dan secara tidak langsung juga berdampak pada pemenuhan kebutuhan psikologis ibu. Sedangkan kebutuhan asuh terpenuhi melalui kandungan ASI. Nutrisi yang adekuat sangat diperlukan utuk pertumbuhan seseorang. Dan ASI adalah cairan biologis kompleks yang mengandung semua nutrien yang diperlukan untuk tumbuh kembang anak. ASI disesuaikan dengan keperluan, laju pertumbuhan bayi dan kebiasaan menyusu. E. Tahap Pencapaian /Periode Tumbuh Kembang Anak Perkembangan anak secara umum terdiri atas tahapan prenatal, neonatus, periode bayi, prasekolah, pra remaja dan remaja. 1. Masa pranatal Masa pranatal terdiri dari masa embrio dan fetus. Pada fase embrio pertumbuhan dimulai 8 minggu pertama dengan terjadi defensiasi yang cepat dari ovum menjadi suatu organisme dan terbentuknya manusia. Pada minggu kedua terjadi pembelahan sel dan terjadi pemisahan jaringan antara entoderm dan ekstoderm, pada minggu ketiga terbentuk lapisan mesoderm. Pada masa ini sampai umur tujuh minggu belum tampak terjadi gerakan yang menonjol hanya denyut jantung janin sudah mulai dapat berdenyut sejak 4 minggu. Masa fetus terjadi antara minggu ke-12 sampai 40 terjadi peningkatan fungsi organ yaitu bertambah panjang dan berat badan terutama pertumbuhan dan penambahan jaringan subcutan dan jaringan otot. 2. Masa neonatus (0-28 hari) Pada masa neonatus (0-28 hari) adalah awal dari pertumbuhan dan perkembangan setelah lahir, masa ini merupakan masa terjadi kehidupan yang baru dalam ekstra uteri dengan terjadi proses adaptasi semua sistem organ tubuh. Proses adaptasi dari organ tersebut dimulai dari akrivitas pernapasan yang disertai pertukaran gas dengan frekuensi pernapasan antara 35-50 x/menit, penyesuaian denyut jantung antara 120-160x/menit dengan ukuran jantung lebih besar apabila dibandingkan dengan rongga dada, terjadi aktivitas bayi yang mulai meningkat. Selanjutnya diikuti perkembangan fungsi organ-organ tubuh lainnya. 3. Masa Bayi (28 hari – 1 tahun) 4. Masa anak (1-3 tahun) 5. Masa pra sekolah (3-5 tahun) 6. Masa sekolah (5 -12 tahun) 7. Masa remaja ( 12-18/20 tahun) F. Teori-Teori Perkembangan 1. Perkembangan kognitif (Piaget) a. Tahap sensori motor (0-2 tahun) Anak mempunyai kemampuan dalam mengasimilasi dan mengakomodasi informasi dengan cara melihat, mendengar, menyentuh dan kativitas motorik. Semua gerakan akan diarahkan ke mulut dengan merasakan keingintahuan sesuatu dari apa yang dilihat, didengar, disentuh dll. b. Tahap praoperasional ( 2-7 tahun) Anak belum mampu mengoperasionalkan apa yang dipikirkan melalui tindakan dalam pikiran anak, perkembangan anak masih bersifat egosentris. Pada masa ini pikiran bersifat transduktif menganggap semuanya sama. Seperti semua pria dikeluarga adalah ayah maka semua pria adalah ayah. Selain itu ada pikiran animisme, yaitu selalu memperhatikan adanya benda mati. Seperti anak jatuh dan terbentur batu, dia akan menyalahkan batu tersebut dan memukulnya. c. Tahap kongret (7-11 tahun) Anak sudah memandang realistis dari dunianya dan mempunyai anggapan yang sama dengan orang lain, sifat egosentrik sudah hilang, karena anak sudah mengerti tentang keterbatasan diri sendiri. Anak sudah mengenal konsep tentang waktu dan mengingat kejadian yang lalu. Pemahaman belum mendalam dan akan berkembang di akhir usia sekolah (masa remaja). d. Tahap formal operasional (> 11 tahun)
Anak remaja dapat berpikir dengan pola yang abstrak menggunakan tanda atau simbol dan menggambarkan kesimpulan yang logis. Mereka dapat membuat dugaan dan mengujinya dengan pemikirannya yang abstrak, teoritis dan filosofis. Pola berfikir logis membuat mereka mampu berpikir tentang apa yang orang lain juga memikirkannya dan berpikir untuk memecahkan masalah.
2. Perkembangan psikoseksual anak (Freud)
a. Tahap oral (0-1 tahun)
Pada masa ini kepuasan dan kesenangan, kenikmatan dapat melalui dengan cara menghisap, menggigit, mengunyah atau bersuara, ketergantungan sangat tinggi dan selalu minta dilindungi untuk mendapatkan rasa aman. Masalah yang diperoleh pada tahap ini adalah menyapih dan makanan.
b. Tahap anal (1-3 tahun)
Kepuasan pada fase ini adalah pada pengeluaran tinja.Anak akan menunjukkan keakuannya dan sikapnya sangat narsistik yaitu cinta terhadap dirinya sendiri dan sangat egosentrik, mulai mempelajari struktur tubuhnya. Masalah pada saat ini adalah obesitas, introvet, kurang pengendalian diri dan tidak rapi.
c. Tahap oedipal/phalik ( 3-5 tahun)
Kepuasan pada anak terletak pada rangsangan autoerotik yaitu meraba-raba, merasakan kenikmatan dari beberapa daerah erogennya, suka pada lain jenis. Anak laki-laki cenderung suka pada ibunya dan anak perempuan cenderung suka pada ayahnya.
d. Tahap laten ( 5-12 tahun)
Kepuasan anak mulai terintegrasi, anak masuk dalam fase pubertas dan berhadapan langsng pada tuntutan sosial seperti suka hubungan dengan kelompoknya atau sebaya, dorongan libido mulai mereda.
e. Tahap Genital ( > 12 tahun)
Kepuasan anak pada fase ini kembali bangkit dan mengarah pada perasaan cinta matang terhadap lawan jenis.
3. Perkembangan psikososial (Erikson)
a. Tahap percaya tidak percaya (0-1 th)
Bayi sudah terbentuk rasa percaya kepada seseorang baik orang tua maupun orang yang mengasuhnya ataupun tenaga kesehatan yang merawatnya. Kegagalan pada tahap ini apabila terjadi kesalahan dalam mengasuh atau merawat maka akan timbul rasa tidak percaya.
b. Tahap kemandirian, rasa malu dan ragu (1-3 tahun)
Anak sudah mulai mencoba dan mandiri dalam tugas tumbuh kembang seperti kemampuan motorik dan bahasa. Pada tahap ini jika anak tidak diberikan kebebasan anak akanmerasa malu.
c. Tahap inisiatif, rasa bersalah (4-6 tahun)
anak akan mulai inisiatif dalam belajar mencari pengalaman baru secara aktif dalam aktivitasnya. Apabila pada tahap ini anak dilarang akan timbul rasa bersalah.
d. Tahap rajin dan rendah diri (6-12 tahun)
Anak selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkan atau prestasinya sehingga anak pada usia ini adalah rajin dalam melakukan sesuatu. Apabila pada tahap ini gagal anak akan rendah diri.
e. Tahap identitas dan kebingungan peran pada masa adolesence.
Anak mengalami perubahan diri, perubahan hormonal.
f. Tahap keintiman dan pemisahan terjadi pada masa dewasa yaitu anak mencoba melakukan hubungan dengan teman sebaya ata kelompok masyarakat dalam kehidupan sosial.
g. Tahap generasi dan penghentian terjadi pada dewasa pertengahan yaitu seseorang ingin mencoba memperhatikan generasi berikutnya dalam kegiatan aktivitasnya.
h. Tahap integritas dan keutusasaan terjadi pada dewasa lanjut yaitu seseorang memikirkan tugas-tugas dalam mengakhiri kehidupan.

G. Adaptasi Pertumbuhan Janin Intrauterin Dan Ekstrauterin
1. Pendahuluan
Pengaruh perubahan persekitaran intra uterus kepada ekstra uterus terhadap berbagai sistem tubuh. Adaptasi adalah proses dimana satu perubahan dan menjadi lebih sesuai kepada persekitaran. Adaptasi neonatal adalah perubahan secara fungsional daripada kehidupan intrauterin kepada kehidupan ekstrauterin.
Mampu beradaptasi akan menjadi homeostasis, gagal beradaptasi akan menjadi morbiditi. Adaptasi bergantung kepada :
a. Kematangan  Bergantung kepada usia kehamilan
b. Status nutrisi  Berhubungan dengan berat badan lahir
c. Toleransi  Kebolehan untuk mengatasi persekitaran baru, mampu bertoleransi kepada keadaan hypoxia, hipoglikemia, pengambilan kalori, dan lain-lain
d. Kemampuan beradaptasi  Kebolehan atau keupayaan sesuatu sistem untuk beradaptasi keatas kesan-kesan daripada perubahan
2. Adaptasi melibatkan fungsi multi organ, termasuk : Sistem kardio-sirkulasi, Sistem respirasi, Saluran intestinal, Metabolisme dan Sistem saraf pusat.
a. Sistem kardio-sirkulasi
Perubahan sirkulasi fetus menjadi sirkulasi perinatal dan perubahan sirkulasi perinatal menjadi sirkulasi bayi/dewasa. Fetus : Dari minggu ke-8 hingga kelahiran, organ-organ mengalami pematangan untuk menyokong kehidupan luar. Sirkulasi fetus : Sirkulasi umbilikal-plasenta melalui tali pusat. Sirkulasi terjadi secara bypass :


1) Hati : Duktus venosus ke vena cava inferior
2) Paru-paru : Foramen ovale antara kiri dan kanan atrium, serta duktus arteriosus yang menghubungkan arteri pulmonari ke aorta.
Sirkulasi pulmonari : Vena umbilikus, duktus venosus, foramen ovale, dan duktus arteriosus. Sirkulasi sistemik: Arteri umbilikus. Sirkulasi fetus : rintangan tinggi pada sirkulasi pulmonari. Rintangan rendah pada sirkulasi sistemik. Terjadinya pergerakan darah dari sebelah kanan ke kiri:
1) Foramen Ovale: Tekanan arteri sebelah kiri rendah kerana darah yang kembali ke paru-paru adalah rendah dan tingginya tekanan pada arteri sebelah kanan kerana isipadu darah dari plasenta tinggi.
2) Duktus arteriosus: Rintangan tinggi pada sirkulasi pulmonari. Rintangan (rsisten) rendah pada sirkulasi sistemik fetus dan fungsi prostaglandin.
Sirkulasi neonatal :
1) Banyak perubahan dalam sirkulasi ketika kelahiran. Bertambahnya aliran darah pada sirkulasi pulmonari akibat turunnya resisten pada sirkulasi pulmonari sehingga paru-paru mengembang.
2) Darah vena kembali daripada jantung meningkat.
3) Tekanan arteri kiri meningkat, arteri kanan berkurang mengakibatkan foramen ovale tertutup.
4) Resisten sirkulasi sistemik lebih tinggi daripada resisten pulmonari dalam masa 24 jam. Fungsi prostaglandin menyebabkan duktus arteriosus menutup.
5) Arteri-arteri umbilikus mengecut dan aliran darah ke plasenta berhenti.
Perbedaan sirkulasi fetus dan sirkulasi neonatal :
1) Sirkulasi pulmonari:
• Fetus: Aktif, kurang berkembang.
• Neonatal: Aktif, perkembangan meningkat.
2) Foramen Ovale:
• Fetus: Terbuka.
• Neonatal: Tertutup.
3) Duktus arteriosus botali:
• Fetus: Terbuka.
• Neonatal: Tertutup.
4) Duktus venosus arantii:
• Fetus: Terbuka.
• Neonatal: Tertutup.


5) Sirkulasi sistemik:
• Fetus: Aktif dengan resisten rendah.
• Neonatal: Aktif dengan meningkatnya resisten.
b. Sistem Respirasi
Perkembangan paru-paru fetus :
1) Kehadiran alveoli: Minggu 25 kehamilan, diisi dengan cairan paru-paru.
2) Pergerakan pernafasan:
3) Sekejap ada, sekejap tidak ada
4) Perkembangan paru-paru
5) Pengaturan pernafasan
6) Pertukaran gas berlaku antara tubuh janin dan plasenta
7) Perubahan pernafasan plasenta menjadi pernafasan paru-paru. Rantaian peristiwa-peristiwa selepas pernafasan pertama:
a) Menukar dari sirkulasi fetus ke sirkulasi orang dewasa.
b) Berlakunya pengosongan cairan paru-paru.
c) Bermulanya fungsi paru-paru.
d) Bermulanya respirasi neonatal.
Perbedaan paru-paru janin (fetus) dan bayi baru lahir (neonatal) :
1) Alveolus:
• Fetus: Tidak berkembang.
• Neonatal: Berkembang.
2) Pembuluh darah paru-paru:
• Fetus: Tidak aktif.
• Neonatal: Aktif.
3) Resisten paru-paru:
• Fetus: Tinggi.
• Neonatal: Menurun / rendah.
4) Darah di paru-paru:
• Fetus: Rendah / sedikit.
• Neonatal: Meningkat.
5) Keperluan oksigen:
• Fetus: Dipenuhi oleh plasenta.
• Neonatal: Dipenuhi oleh paru-paru.
6) Penyingkiran karbon dioksida:
• Fetus: Melalui plasenta.
• Neonatal: Melalui paru-paru.

c. Sistem Metabolisme
Adaptasi janin (fetus) terhadap suhu selepas dilahirkan :
1) Fetus: Suhu tubuh dipelihara oleh persekitaran intra uterin.
2) Neonatal: Terendah kepada keadaan ekstra uterin, kemampuan homeothermy adalah terbatas terhadap besar luas permukaan
Kehilangan panas adalah melalui:
1) Konduksi : Pemindahan kehangatan tubuh ke permukaan kulit. Maka untuk mengelakkan kehilangan panas, bayi hendaklah dikeringkan dan diselimuti, serta meletakkan di suatu tilam / tempat tidur yang hangat.
2) Konveksi : Kehilangan panas melalui kulit bergantung pada aliran dan suhu udara. Bayi hendaklah diselimut dan suhu bilik dikawal untuk mengelakkan kehilangan panas pada tubuh bayi.
3) Evaporasi (penguapan) : Bergantung kepada kelembapan udara. Untuk mengelakkan kehilangan panas pada bayi, kelembapan dan suhu bilik perlu dikawal.
4) Radiasi : Perpindahan panas dari tubuh ke suhu persekitaran. Hidupkan pemanas dan kawal suhu bilik untuk mengelakkan kehilangan panas terjadi pada bayi.
Termogenesis dan termolisis pada perinatal
Termogenesis : Proses pembentukan panas. Terjadi pada saat seseorang berada pada persekitaran yang dingin. Tujuannya adalah supaya suhu tubuh tetap dikawal pada suhu normal dan menggantikan panas yang telah terbebas ke persekitaran. Pada perinatal, termogenesis terjadi dengan cara katabolisme brown fat dan simpanan makanan di dalam tubuhnya.
Termolisis: Proses menghilangkan panas tubuh. Terjadi pada saat seseorang berada pada persekitaran yang hangat / panas. Tujuannya supaya suhu tubuh tidak terus meningkat dan tetap berada pada suhu tubuh normal. Pada perinatal, termolisis terjadi dengan cara radiasi, penguapan (misalnya berpeluh), dan sebagainya.
d. Sistem Intestinal
Fungsi hati sebagai penyedia tenaga dan Peranan motiliti, sekresi serta penyerapan saluran cerna. Hati dan empedu : Bermula pembentukan pada minggu ke-6 dan minggu ke-12  Gagal membentuk saluranempedu mengalami atresia. Pankreas : Menyekresi insulin dan glukagon pada minggu ke-10 dan minggu ke-15.



Sistem intestinal pada janin dan neonatal :
1) Janin :
• Keperluan kalori dan nutrisi didapati daripada ibu melalui plasenta.
• Motiliti saluran intestinal tidak aktif.
• Tidak memerlukan enzim untuk metabolisme.
2) Neonatal:
• Motiliti saluran intestinal mulai berfungsi.
• Peningkatan keperluan terhadap kalori / nutrisi dan metabolisme enzim.
Perbedaan gastrointestinal antara fetus (janin) dan neonatal :
1) Penyerapan nutrisi:
• Fetus: Tidak aktif.
• Neonatal: Aktif.
2) Kolonisasi bakteria:
• Fetus: Negatif.
• Neonatal: Positif.
3) Feces:
• Fetus: Meconium.
• Neonatal: Meconium dan feces.
4) Enzim:
• Fetus: Tidak berfungsi.
• Neonatal: Aktif.
Adaptasi urogenital :
1) Pembentukan organ ginjal: Suatu proses yang berkelanjutan, dari minggu 6 hingga minggu ke 36 dalam kandungan.
2) Perkembangan fungsi urogenital berterusan selepas kelahiran.
3) Penghasilan urin fetus: Menetapkan isipadu cairan amnion.
4) Lebih daripada 90% neonatal tidak mengeluarkan urin dalam tempoh 24 jam pertama selepas kelahiran.
5) Penghasilan urin neonatal: 1-2 ml/kg berat badan/jam.
Perkara yang perlu diambil perhatian :
1) Oligohidramnion: Disebabkan oleh tiada / pertumbuhan ginjal yang tidak sempurna, hipoplasia, displasia, dan terjadi penghalangan pada saluran urinari.
2) Polihidramnion: Disebabkan oleh kelainan-kelainan gastrointestinal, sindrom transfusi transplasenta, dan Diabetes Mellitus kongenital.
3) Lambat buang air kecil (lebih daripada 48 jam): Disebabkan oleh pengaliran darah yang tidak memadai (hipovolemia / hypoxia), kegagalan penghasilkan urin, adanya halangan pada aliran keluar urin dari tubuh.
Status imunologi pada fetus dan neonatal :
1) Fetus: Terdiri daripada sel-sel fagosit, granulosit, dan monosit. Dapat dikesan pada bulan ke-4 kandungan.
2) Neonatal: Kekuatan sistem imun lebih rendah berbanding orang dewasa walaupun lahir cukup bulan.
Berlaku imunodefisiensi bersifat transient sekitar 3-12 bulan selepas kelahiran. Faktor yang mendorong ini terjadi:
1) Prematur
2) Trauma di saat kelahiran
3) Stress pada neonatal
4) Dan sebagainya

H. Cara Deteksi Tumbuh Kembang Anak
1. Cara penilaian pertumbuhan anak
a. Pengukuran antropometrik
Pengukuran antropometrik meliputi :
1) Berat badan
Untuk menilai hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh (tulang, otot, lemak, cairan tubuh) sehingga akan diketahui status gizi anak atau tumbuh kembang anak. BB dapat juga sebagai menghitung dosis obat. Penilaian berat badan berdasarkan umur menurut WHO dengan baku NCHS, berdasarkan tinggi badan menurut WHO, dan NCHS yaitu : persentil ke 75 -25 dikatakan normal, persentil 10-5 malnutrisi sedang dan kenaikan berat badan pada bayi cukup bulan kembali pada hari ke-10.
• Umur 10 hari : BBL
• Umur 5 bulan : 2 x BBL
• Umur 1 tahun : 3 x BBL
• Umur 2 tahun : 4 x BBL
• Pra sekolah : meningkat 2 kg/tahun
• Adolecent : meningkat 3-3,5 kg/tahun
• Kenaikan BB pada tahun pertama kehidupan
Trimester I : 700-1000 gram/bulan
Trimester II : 500-600 gram/bulan
Trimester III : 350-450 gram/bulan
Trimester IV : 250-350 gram/bulan
• Perkiraan BB dalam kilogram
Usia 3-12 bulan : umur (bulan) + 9
2
Usia 1-6 tahun : umur (tahun) x 2 + 8
Usia 6-12 tahun : umur (tahun) x 7 – 5
2
2) Tinggi Badan
Pengukuran tinggi badan untuk menilai status perbaikan gizi disamping faktor genetik. Penilaian TB dapat dilakukan dengan sangat mudah dalam menilai gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Penilaian TB daat berdasarkan umur menurut WHO dengan baku NCHS yaitu dengan cara presentase dari median dengan penilaian : ≥90 adalah normal, TB meningkat sampai tinggi maksimal dicapai, meningkat pesat pada usia bayi dan adolecent dan berhenti pada usia 18 – 20 tahun.
TB dapat diperkirakan sebagai berikut :
• Umur 1 tahun = 1,5 x TB lahir
• Umur 4 tahn = 2 x TB lahir
• Umur 6 tahun = 1,5 x TB setahun
• Umur 13 tahun = 3 x TB lahir
• Dewasa = 3,5 x TB lahir atau 2 x TB umur 2 tahun)
Atau dengan rumus Behrman,
• Lahir = 50 cm
• Umur 1 tahun = 75 cm
• Umur 2 – 12 tahun = umur (tahun) x 6 + 77
Atau berdasarkan potensi genetik TB akhir :
• Wanita = (TB ayah – 13 cm) + TB ibu ± 8,5 cm
2
• Pria = (TB ibu + 13 cm) + TB ayah ± 8,5 cm
2
3) Lingkar kepala
Dapat digunakan untuk menilai pertumbuhan otak. Penilaian ini dapat dilihat apabila pertumbuhan otak kecil (mikrosefali) maka menunjukkan adanya retardasi mental, sebaliknya apabila otaknya besar (volume kepala meningkat) akibat penyumbatan pada aliran cairan cerebrospinalis.
Peningkatan volume
• 6 -9 bulan kehamila = 3 gram/24 jam
• Lahir-6 bulan = 2 gram/24 jam
• 6 blan- 3 tahun = 0,35 gram/24 jam
• 3-6 tahun = 0,15 gram/24 jam
4) Pengukuran lingkar lengan atas
Digunakan untuk menilai jaringan lemak dan otot, tetapi penilaian ini banyak berpengaruh pada keadaan jaringan tubuh apabila dibanding dengan BB. Penilaian ini juga dapat dipakai untuk menilai status gizi pada anak usia pra sekolah. Keuntungan : alatnya murah, bisa dibuat sendiri, mudah dibawa, cepat penggunaannya, dapat digunakan oleh tenaga yang tidak terdidik. Kerugian : hanya untuk identifikasi anak dengan gangguan gizi/pertumbuhan yang berat, sukar menentkan pertengahan LILA tanpa menekan jaringan, hanya untuk anak umur 1-3 tahun
5) Lipatan Kulit
Tebalnya lipatan kulit pada daerah triseps dan subskapular merupakan refleksi tumbang jaringan lemak di bawah kulit yang mencerminan kecukupan energi. Dalam keadaan defisiensi, lipatan kulit menipis dan sebaliknya menebal jika masukan energi berlebihan. Tebal lipatan kulit dimanfaatkan untuk menilai tercapainya keadaan gizi lebih (obesitas).
6) Gigi
• Gigi pertama tumbuh umur 5-9 bulan
• Umur 1 tahun sebagian besar anak punya 6-8 gigi susu
• Tahun kedua tumbuh lagi 8 biji
• Jumlah seluruhnya sekitar 14-16 gigi
• Umur 2,5 tahun terdapat 20 gigi susu
• Waktu erupsi gigi tetap adalah :
Molar pertama : 6-7 tahun
Insisor : 7-9 tahun
Premolar : 9-11 tahun
Kaninus : 10-12 tahun
Molar kedua : 12-16 tahun
Molar ketiga : 17-25 tahun
b. Pemeriksaan Fisik
Untuk menilai pertumbuhan dan perkembangan dengan cara melakukan pemeriksaan fisik, dengan melihat bentuk tubuh, perbandingan bagian tubuh dan anggota gerak lainnya, menentukan jaringan otot dengan memeriksa lengan atas, pantat dan paha, menentukan jaringan lemak dilakukan pada triseps, rambut dan geligi
c. Pemeriksaan Laboratorium
Dilakukan untuk menilai keadaan pertumbuhan dan perkembangan dengan status keadaan penyakit, adapun pemeriksaan yang dapat dilakukan ; pemeriksaan Hb, serum protein (albumun, globulin), hormonal, dll.
d. Pemeriksaan radiologi
Dilakukan untuk menilai umur pertumbuhan dan perkembangan seperti tulang (apabila dicurigai adanya gangguan pertumbuhan)
2. Penilaian perkembangan anak
a. Tujuan
1) Mengetahui kelainan perkembangan anak dan hal-hal lain yang merupakan isiko terjadinya perkembangan tersebut
2) Mengetahui berbagai masalah perkembangan yang memerlukan pengobatan atau konseling genetik
3) Mengetahui anak perlu dirujuk
b. Cara deteksi perkembangan
1) Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
KPSP merupakan suatu daftar pertanyaan singkat yang ditujukan pada orang tua dan dipergunakan sebagai alat untuk melakukan skrining pendahuluan untuk perkembangan anak usia 3 bulan sampai 6 tahun. Daftar pertanyaan tersebut berjumlah 10 nomor yang harus dijawab oleh orang tuaatau pengasuh yang mengetahui keadaan perkembangan anak.
Pertanyaan dalam KPSP dikelompokan sesuai usia anak saat dilakukan pemeriksaan, mulai kelompok usia 3 bulan, 3-6 bulan, dst sampai kelompok 5-6 tahun. Untuk usia ditetapkan menurut tahun dan bulan dengan kelebihan 16 hri dibulatkan menjadi 1 bulan.
Pertanyaan dalam KPSP harus dijawab dengan ’ya’ atau ’tidak’ oleh orang tua. Setelah semua pertanyaan dijawab, selanjutnya hasil KPSP dinilai.
a) apabila jawaban ’ya’ berjumlah 9-10, berarti anak tersebut normal (perkembangan baik)
b) apabila jawaban ’ya’ kurang dari 9, maka perlu diteliti lebih lanjut mengenai;
Apakah cara menghitung usia dan kelompok pertanyaannya sudah sesuai. Kesesuaian jawaban orang tua dengan maksud pertanyaan. Apabila ada kesalahan, maka pemeriksaan harus diulang. Apabila setelah diteliti jawaban ’ya’ berjumlah 7-8, berarti hasilnya meragukan dan perlu diperiksa ulang1 minggu kemudian. Apabila jawaban ’ya’ berjumlah 6 atau kurang, berarti hasilnya kurang atau positif untuk perlu dirujuk guna pemeriksaan lebih lanjut.
2) Kuesioner Perilaku Anak Pra Sekolah (KPAP)
KPAP adalah sekumpulan perilaku yang digunakan sebagai alat untuk mendeteksi secara dini kelainan-kelainan perilaku pada anak prasekolah (usia 3-6) tahun. Kuesioner ini berisi 30 perilaku yang perlu ditanyakan satu per satu pada orang tua.
Setiap perilaku perlu ditanyakan apakah ‘sering terdapat’, ‘ kadang-kadang terdapat’, atau ‘ tidak terdapat’. Apabila jawaban yang diperoleh adalah ‘sering terdapat’ , maka jawaban tersebut dinilai 2, ‘kadang-kadang terdapat’ diberi nilai 1 dan ‘tidak terdapat’ diberi nilai 0. Apabila jumlah nilai keseluruhan kurang dari 11, maka anak perlu di rujuk, sedangkan jika jumlah nilai 11 atau lebih maka anak tidak perlu dirujuk.
3) Tes Daya Lihat Dan Tes Kesehatan Mata Anak Prasekolah
Tes ini untuk memeriksa ketajaman daya lihat serta kelainan mata pada anak berusia 3- 6 tahun. Tes ini juga digunakan untuk mendeteksi adanya kelainan daya lihat pada anak usia prasekolah secara dini, sehingga jika ada penyimpangan dapat segera ditangani.
Untuk melakukan tes daya lihat diperlukan ruangan dengan penyinaran yang baik dan alat ’kartu E’ yang digantungkan setinggi anak duduk. Kartu E berisi 4 baris. Baris pertama huruf E berukuran paling besar kemudian berasngsur-angsur mengecil pada baris keempat. Apabila pada baris ketiga , anak tidak dapat melihat maka perlu di rujuk.
Selain tes daya lihat, anak juga perlu diperiksakan kesehatan matanya. Perlu ditanyakan :
a) keluhan seperti mata gatal, panas, penglihatan kabur atau pusing
b) perilaku seperti sering menggosok mata, membaca terlalu dekat, sering mengkedip-kedipkan mata
c) kelainan mata seperti bercak bitot, juling, mata merah dan keluar air
apabila ditemukan satu kelainan atau lebih pada mata naka, maka anak tersebut perlu dirujuk.
4) Tes Daya Dengar Anak (TDD)
Tes daya dengar berupa pertanyaan-pertanyaan yang disesuaikan dengan usia anak, yaitu kelompok 0-6 bulan, > 16 bulan, > 9 bulan, > 11 bulan, > 12 bulan, > 24 bulan dan > 36 bulan. Setiap pertanyaan perlu dijawab ’ya’ atau ’tidak’. Apabila jawabannya adalah tidak maka pendengaran anak tidak normal sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut.
5) DDST (Denver development screnning test) Denver II
Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). Adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit.


a) Aspek Perkembangan yang dinilai
Terdiri dari 125 tugas perkembangan. Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas.
Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai :
(1) Personal Social (perilaku sosial)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
(2) Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.
(3) Language (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan
(4) Gross motor (gerakan motorik kasar)
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
b) Alat yang digunakan
(1) Alat peraga: benang wol merah, kismis/ manik-manik, Peralatan makan, peralatan gosok gigi, kartu/ permainan ular tangga, pakaian, buku gambar/ kertas, pensil, kubus warna merah-kuning-hijau-biru, kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa).
(2) Lembar formulir DDST II
(3) Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya.
c) Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu:
(1) Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia:
• 3-6 bulan
• 9-12 bulan
• 18-24 bulan
• 3 tahun
• 4 tahun
• 5 tahun
(2) Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap.

d) Penilaian
Jika Lulus (Passed = P), gagal (Fail = F), ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO).
e) Cara Pemeriksaan DDST II
(1) Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan tanggal lahir anak yang akan diperiksa. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun.
(2) Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah, jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas.
(3) Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST.
(4) Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan berapa yang F.
(5) Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal, Abnormal, Meragukan dan tidak dapat dites.
(a) Abnormal
• Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih
• Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia .
(b) Meragukan
• Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih
• Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.
(c) Tidak dapat dites
• Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan.
(d) Normal
• Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas.
f) Pada anak-anak yang lahir prematur, usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun:




Contoh Soal
Contoh perhitungan anak dengan prematur:
An. Lula lahir prematur pada kehamilan 32 minggu, lahir pada tanggal 5 Agustus 2006. Diperiksa perkembangannya dengan DDST II pada tanggal 1 April 2008. Hitung usia kronologis An. Lula!
Diketahui :
Tanggal lahir An. Lula : 5-8-2006
Tanggal periksa : 1-4-2008
Prematur : 32 minggu
Ditanyakan :
Berapa usia kronologis An. Lula?
Jawab :
2008 – 4 – 1 An. Lula prematur 32 minggu
2006 – 8 – 5 - Aterm = 37 minggu
1 – 7 -26 Maka 37 – 32 = 5 minggu

a) Tidak prematur
Jadi usia An. Lula jika aterm (tidak prematur) adalah 1 tahun 7 bulan 26 hari atau 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan
b) Prematur
Usia tersebut dikurangi usia keprematurannya yaitu 5 minggu x 7 hari = 35 hari, sehingga usia kronologis An. Lula untuk pemeriksaan DDST II adalah : 1 tahun 7 bulan 26 hari – 35 hari = 1 tahun 6 bulan 21 hari Atau 1 tahun 7 bulan atau 19 bulan

g) Interpretasi dari nilai Denver II
(a) Advanced
Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut)
(b) OK
Melewati, gagal, atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia antara persentil ke-25 dan ke-75
(c) Caution
Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia kronologis di atas atau diantara persentil ke-75 dan ke-90
(d) Delay
Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis; penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan, karena alasan untuk menolak mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu
Check List Pemeriksaan DDST
No Prosedur Tindakan

1. Siapkan formulir DDST yang akan digunakan beserta alat bantu untuk melakukan pemeriksaan tumbuh kembang bayi/anak
2. Beri salam pada klien/ibu dengan sopan, perkenalkan diri anda kepada mereka,
3. Menjelaskan tujuan dari tindakan yang akan dilakukan
I PENGKAJIAN
4. Melakukan anamnese untuk memperoleh data bayi maupun orang tuanya sesuai dengan formulir yang ada
5. Mencuci tangan di bawah air mengalir dengan sabun dan dikeringkan dengan handuk kering
6. Melakukan pengukuran antropometri (BB, PB, LLA dan lingkar kepala)
7. Melakukan pemeriksaan fisik
8. Melakukan pemeriksaan tes daya dengar sesuai format yang ada
9. Menentukan usia/umur bayi/anak dengan tepat
10. Memasukkan usia bayi pada formulir DDST dengan menarik garis vertikal pada formulit DDST
11. Melakukan hasil penilaian perkembangan bayi/anak menggunakan alat bantu sesuai dengan tugas-tugas yang terletak di sebelah kiri garis usia bayi/anak
12. Memasukkan hasil penilaian ke dalam format DDST
13. Mengklarifikasikan hasil penilaian/pemeriksaan yang telah dilakukan
II IDENTIFIKASI MASALAH
14. Memberikan informasi berdasarkan pengkajian dan penilaian perkembangan menggunakan DDST
III IMPLEMENTASI
15. Mengidentifikasi masalah berdasarkan hasil dari pemeriksaan (penilaian) yang telah dilakukan.
16. Memberikan penyuluhan berdasarkan hasil pemeriksaan dan penilaian perkembangan serta masalah lainnya
17. Memberi kesempatan pada keluarga untuk bertanya tentang hal-hal yang kurang dimengerti
18. Merencanakan penilaian perkembangan secara berkala (melakukan kunjungan ulang)
19. Secara sopan ucapkan perpisahan pada ibu/keluarga dan ucapkan terima kasih
20. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan/penilaian
21. Merapikan alat-alat yang telah digunakan
22. Mencuci tangan di bawah air mengalir dengan sabun dan dikeringkan dengan handuk kering























ASUHAN PADA NEONATUS DAN BAYI BARU LAHIR DENGAN MASALAH YANG LAZIM TERJADI


A. Pendahuluan
Saat kelahiran adalah saat-saat dimana terjadinya banyak perubahan dramatik yang terjadi di dalam tubuh bayi dimana dari sudut pandang bayi, proses kelahiran merupakan pengalaman yang bersifat traumatik. Salah satu penyebab utama kematian bayi baru lahir yang sesungguhnya dapat dicegah dan diobati melalui pemberian asuhan pada neonatus dan BBL dengan masalah yang lazim terjadi. Lingkup asuhan neonatus, bayi dan anak balita dengan masalah yang lazim terjadi, diantaranya :
1. Diare
a. Konsep diare
Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar di antara 150-430 perseribu penduduk setahunnya. Dengan upaya yang sekarang telah dilaksanakan, angka kematian di rumah sakit dapat ditetapkan menjadi kurang dari 3%.
Penggunaan istilah diare sebenarnya lebih tepat daripada gastroenteritis, karena istilah yang disebut terakhir ini memberikan kesan seolah-olah penyakit ini hanya disebabkan oleh infeksi dan walaupun disebabkan oleh infeksi, lambung jarang mengalami peradangan.
Hippocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Di bagian ilmu kesehatan anak FKUI/RSCM, diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal dan bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak, bila frekuensinya lebih dari 3 kali.
b. Penyebab
Etiologi diare dapat dibagi dalam bebrapa faktor, yaitu :
1) Faktor infeksi
a) Infeksi internal yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Infeksi internal ini meliputi :
(1) Infeksi bakteri : vibrio, E.coli, salmonella, shigella, campylobacter, yersinia, aeromonas dan sebagainya.
(2) Infeksi virus : enteroovirus (virus ECHO, coxsackie, poliomyelitis), adenovirus, rotavirus , astrovirus dan lain-lain.
(3) Infestasi parasit : cacing (ascaris.trichiuris, oxyuris, strongyloides), protozoa (entamoeba histolytica, giardia lamblia, trichomonas hominis), jamur (candida albicans)
b) Infeksi parenteral yaitu infeksi di bagian tubuh lain diluar alat pencernaan, seperti otitis media akut (OMA), tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun.
2) Faktor malabsorsi
a) Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktrosa.
b) Malabsorbsi lemak
c) Malabsorbsi protein
3) Faktor makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4) Faktor psikologis : rasa takut dan cemas. Walaupun jarang, dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar.
c. Klasifikasi diare
1) Berdasarkan Waktu kejadian
a) Akut : < 2 minggu b) Persisten : 2 - 4 minggu c) Persisten : > 4 minggu
2) Berdasarkan Klinis
a) Cholera : disertai muntah, dehidrasi, tidak tenesmus, tidak mulas, feses encer, banyak, warna putih keruh, tidak berbau busuk
b) Disentri : jarang disertai muntah, disertai tenesmus dan mulas, feses lendir dan darah, berbau busuk
3) Berdasarkan derajad
a) Ringan : < 2x tiap 2 jam b) Sedang : > 2x tiap 2 jam
c) Berat : disertai tanda-tanda syok
Tanda – tanda syok :
(1) Nadi lemah, kecil dan cepat
(2) Hipotermia
(3) Tekanan nadi < 20 mm hg (4) Hipotensi (5) Sianosis (6) Capillary refill memanjang Cara Menentukan Derajat Dehidrasi Gejala Derajat Dehidrasi Ringan Sedang Berat 1. Ku: a. Kesadaran b. Rasa Haus 2. Denyut Nadi 3. Pernafasan 4. Ubun – Ubun Besar 5. Mata 6. Turgor Dan Tonus Otot 7. Kencing Baik + Normal / < 120/mnt Biasa Agak cekung Agak cekung Biasa Biasa Gelisah ++ Cepat/12 –140x/ mnt Agak cepat Cekung Cekung Kurang Sakit Apatis s/d koma + Cepat sekali / >140x/mnt
Cepat dan lambat ( kusmoul )
Amat cekung
Amat cekung
Kurang sekali

Tidak kencing sama sekali

d. Faktor yang berpengaruh
1) Faktor host
a) Keasamanan lambung
b) Mukosa lambung
c) Motilitas usus
d) Imunitas
e) Enzim pencernaan
2) Faktor Agen (kausa)
a) Kuman
b) Toksin
e. Patogenesis infeksi bakteri
1) Invasif (diare inflamatory)
Bakteri ® merusak mukosa
a) EIEC
b) Salmonella Sp
c) Shigella sp
d) C. jejuni
e) E. histolityca
2) Non Invasif (diare sekretorik)
Bakteri ® enterotoksin – tidak merusak mukosa
a) V. Cholera eltor
b) E. coli (ETEC)
c) S. aureus
f. Diagnosis
1) Anamnesis
a) Bentuk feses
b) Makanan dan minuman
c) Lingkungan (keluarga, air, keracunan)
d) Keluhan lain (nyeri perut, mual, muntah)
2) Pemeriksaan Fisik
a) Febris, takikardi
b) Tanda dehidrasi
c) Peristaltik usus
3) Pemeriksaan penunjang
a) Darah lengkap, ureum, kreatinin, elektrolit
b) Feses (lekosit dan parasit)
g. Penatalaksanaan
Prinsip :
1) Rehidrasi
2) Simtomatik
3) Kausatif
Skor Daldiyono


Rehidrasi

Cara Pengobatan (Rehidrasi)
Derajat dehidrasi usia Jenis cairan Banyak yang diberikan ( ml / kg BB) Lama pemberian
Ringan Semua umur Oralit peros 50 ml/kg BB 4 jam
Sedang
Semua umur Oralit peros 100 ml/kg BB 4 jam



Berat

Bayi (0 – 12 bl)

Anak > 2 th RL

RL IV

Oralit peros 30 ml / kg BB atau 10 – 12 tts / kg BB kemudian
10 ml/kgBB atau 3 – 14 tts/kg BB / mnt
bersama
adlibitum atau 125 ml / kgBB 1 jam

7 jam

16 jam
Anak > 12 th
dan
orang dewasa RL IV

Oralit 100 ml / kg BB
kemudian
100 ml / kg BB 4 jam

20 jam

Terapi simptomatik
1) Loperamid 2 – 1 – 1 (anti motilitas)
2) Metoklopropamid 3 x 1 tab (anti emetik)
3) Spasmolitik
Terapi kausatif
1) Kolera
• Tetrasiklin 4 x 500 mg --- 3 hari
• Doksisiklin 300 mg single dose
• Eritromisin 4 x 500 mg --- 3 hari
• Kotrimoksasol 2 x 480 mg
• Siprofloksasin 2 x 500 mg
2) Disentri Amuba
• Metronidazol 3 x 500 mg --- 5 hari
• Tetrasiklin 4 x 500 mg – 10 hari
• Klorokuin 2 x 500 mg -- 2 hari, 2 x 250 -- 7 - 12 hr
• Emetin 1 x 50 mg IV – 3 – 5 hari
3) Salmonellosis / Shigellosis
• Ampisilin 4 x 1 gr/hr -- 5 hari
• Kloramfenikol 4 x 500 mg --- 3 hari
• Kotrimoksasol 2 x 480 mg
• Siprofloksasin 2 x 500 mg
4) Giardiasis
• Klorokuin 3 x 100 mg -- 5 hari
• Metronidazol 3 x 250 mg -- 7 hari
h. Ringkasan
• Diare akut : BAB frekuensi > 3x/hari, konsitensi lembek/cair, mendadak < 2 minggu. • Penyebab diare : infeksi dan non infeksi • Klasifikasi diare : waktu, klinis dan derajad • Patogenesis diare : invasif dan non invasif • Kriteria Diagnosis diare : anamnesis, PF, PP • Pengelolaan diare : rehidrasi, simtomatik, kausatif • Komplikasi diare : dehidrasi, syok hipovolemik, asidosis 2. Obstipasi Konsep Obstipasi Konstipasi/sembelit adalah keadaan dimana anak jarang sekali buang air besar dan kalau buang air besar keras. Obstipasi : obstruksi intestinal (konstipasi yang berat) Obstipasi pada neonatus, bayi dan balita adalah neonatus bayi dan balita yang tidak menunaikan hajat minimal selama 4 hari berturut-turut. Model tinja atau feses 1 (konstipasi kronis), 2 (konstipasi sedang) dan 3 (konstipasi ringan) dari Bristol Stool Chart yang menunjukkan tingkat konstipasi atau sembelit Penyebab a. Faktor non organik 1) Kurang makanan yang tinggi serat 2) Kurang cairan 3) Obat/zat kimiawi 4) Kelainan hormonal/metabolik 5) Kelainan psikososial 6) Perubahan mikroflora usus 7) Perubahan/kurang exercise b. Faktor organik 1) Kelainan organ (mikrocolon, prolaps rectum, struktur anus, tumor) 2) Kelainan otot dasar panggul 3) Kelainan persyarafan : M. Hirsprung 4) Kelainan dalam rongga panggul 5) Obstruksi mekanik : atresia ani, stenosis ani, obstruksi usus Tanda dan gejala a. Frekuensi BAB kurang dari normal b. Gelisah, cengeng, rewel c. Menyusu/makan/minum kurang d. Fese keras Pemeriksaan penunjang a. Laboratorium (feses rutin, khusus) b. Radiologi (foto polos, kontras dengan enenma) c. Manometri d. USG Penatalaksanaan a. Banyak minum b. Makan makanan yang tinggi serat (sayur dan buah) c. Latihan d. Cegah makanan dan obat yang menyebabkan konstipasi e. ASI lebih baik dari susu formula f. Enema perotal/peranal g. Kolaborasi untuk intervensi bedah jika ada indikasi h. Perawatan kulit peranal 3. Infeksi Batasan Salah satu penyebab utama kematian bayi baru lahir yang sesungguhnya dapat dicegah dan diobati. Asuhan pada infeksi lokal a. Infeksi kulit 1) Bila ditemukan pustula (diameter <1cm) atau bula (diameter >1cm) di kulit
2) Awalnya satu kemudian bertambah banyak dan menyebar
3) Gunakan sarung tangan bersih
4) Bersihkan bagian kulit yang meradang dengan sabun
5) Bila tidak ada perubahan > 3 hari atau keadaan memburuk à Rujuk
b. Ruam pada perineum
1) Hindari kelembaban di sekitar perineum dengan mengganti popok jika basah atau kotor
2) Ruam dapat diolesi dengan larutan gentian violet 0,25% setiap kali mengganti popok sampai ruam mengering
c. Ruam pada mulut (oral trush)
1) Bersihkan mukosa mulut bayi dengan kasa bersih yang dicelup air hangat
2) Olesi gentian violet 0,25%, 2-4 kali sehari pada mukosa mulut
3) Setelah membaik lanjutkan hingga 2 hari berikutnya
4) Minta ibu untuk mengolesi putting payudaranya dengan larutan gentian violet 0,25% setelah ibu menyusui selama bayi dalam proses pengobatan
5) Bila tidak terdapat perbaikan > 3 hari atau keadaan memburukà Rujuk
6) Setelah bayi sembuh, beri ASI dengan sebelumnya ibu mencuci tangan dan memeras sedikit ASI untuk dioleskan di sekitar putting dan areola
d. Infeksi pada mata
1) Bila mata merah atau kelopak mata bengkak tanpa mengeluarkan nanah. Cuci tangan dan bersihkan kedua mata 3 kali sehari dengan kasa yang dicelup air hangat dari arah lateral ke medial (dari samping ke tengah)
2) Dilanjutkan dengan mengoleskan salep mata tetrasiklin 1% atau kloramfenikol 1% pada kedua mata
3) Cuci tangan kembali
4) Bila tidak ada perubahan > 3 hari atau keadaan memburuk à Rujuk
e. Infeksi tali pusat
1) Cuci tangan, mengenakan sarung tangan bersih
2) Bersihkan tali pusat dan sekitarnya dengan kasa bersih yang dicelupkan di air hangat
3) Oles tali pusat bayi dan sekitar dengan gentian violet 0,5% atau povidon iodin 2,5%, 4 kali sehari sampai tidak bernanah lagi
4) Cuci tangan kembali
5) Bila keadaan memburukà Rujuk

Asuhan infeksi sistemik (Sepsis neonatorum)
Rujuk, bila ada salah satu tanda :
a. Bayi mengantuk/letargis atau tidak sadar
b. Kejang disertai tanda/gejala infeksi lain
c. Gangguan napas
d. Malas/tidak bisa minum dengan atau tanpa muntah
e. Ada bagian bayi berwarna merah, mengeras (sklerema)
f. Ubun-ubun cembung
g. Suhu badan > 37,5 C
h. Suhu badan < 36 C Bayi dan anak-anak di bawah lima tahun adalah kelompok yang rentan terhadap berbagai penyakit karena sistem kekebalan tubuh mereka belum terbangun sempurna. Sebagian besar penyakit anak tidak berbahaya dan hanya menyebabkan ketidaknyamanan sementara. Beberapa jenis lainnya sangat berbahaya, bahkan mengancam jiwa. Penyakit anak yang hanya menimbulkan ketidaknyaman sementara antara lain adalah sebagian besar ISPA (infeksi saluran pernapasan atas), rhinitis alergi, infeksi telinga tengah, radang tenggorokan, cacar air dan masalah kulit. Penanganan gangguan-gangguan kesehatan itu umumnya cukup dengan mengelola gejala-gejalanya. Penyakit anak yang berbahaya antara lain adalah tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio dan campak. Penyakit-penyakit tersebut dapat dicegah dengan imunisasi. Pemerintah bahkan secara nasional memiliki program imunisasi wajib untuk penyakit-penyakit tersebut. Selain itu, ada penyakit berbahaya lain seperti Hepatitis A/B, MMR, meningitis, pneumonia, dan tifoid yang juga dapat dicegah dengan vaksinasi. a. Salmonella Paratyphi (Thypoid/Typus)  Demam typoid Konsep Demam Typoid Demam Enterik (Tifoid) adalah penyakit sistemik yang ditandai dengan demam dan nyeri pada abdomen yang disebabkan oleh penyebaran Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi. Pada awalnya penyakit ini disebut demam tifoid karena memiliki gejala klinis yang sama dengan typhus. Namun pada awal tahun 1800-an, demam typhoid secara jelas didefinisikan sebagai kelainan patologis berupa suatu penyakit yang berbeda (unik) dikarenakan dasar penegakan penyakit yang berhubungan dengan pembesaran Plak Peyeri dan nodus limfatikus mesenterik. Pada tahun 1869, berdasarkan tempat infeksi, istilah demam enterik diajukan sebagai istilah alternatif untuk membedakan demam tifoid dari tifus. Namun pada saat ini kedua istilah tersebut sering bertukar tempat. Epidemiologi Beberapa hal yang mempengaruhi terjadinya penyebaran demam tifoid di negara sedang berkembang adalah kepadatan penduduk, sumber air minum, produksi makanan, strain resisten antibiotik, kesulitan menentukan identifikasi dan penatalaksanaan karier, keterlambatan membuat diagnosis pasti, patogenesis dan virulensi yang belum diketahui sepenuhnya, serta belum adanya vaksin, efektif aman dan murah. Bakteri S. typhi dapat bertahan hidup di lingkungan kering dan beku, peka terhadap proses klorinasi dan pasteurisasi pada suhu 630 C. Organisme ini mampu bertahan beberapa minggu di es, debu, sampah kering, dan pakaian, mampu bertahan di tempat sampah selama satu minggu dan dapat berkembang biak dalam susu, daging atau produknya tanpa merubah warna atau bentuknya. Manusia merupakan satu-satunya sumber penularan alami melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan seorang penderita tifoid atau karier kronis. Transmisi kuman terutama dengan cara menelan makanan atau air yang tercemar tinja manusia. Transmisi secara kongenital dapat terjadi dari seorang ibu yang mengalami bakteriemia kepada bayi dalam kandungan, atau tertular pada saat dilahirkan oleh seorang ibu merupakan karier tifoid dengan rute fekal oral. Etiologi Salmonella Typhi adalah bakteri Gram negatif, mempunyai flagela, tidak berkapsul, tidak membentuk spora fakultatif anaerob. Mempunyai antigen somatik (O) yang terdiri dari oligosakarida, flagelar antigen (H) yang terdiri dari protein dan envelope antigen (K) yang terdiri dari polisakarida. Mempunyai makromolekular lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapis luar dari dinding sel dan dinamakan endotoksin. Salmonella typhii juga dapat memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan dengan resistensi terhadap multipel antibiotik. Patogenesis Jalur Masuknya Bakteri ke Dalam Tubuh Infeksi didapat dengan cara menelan makanan atau minuman yang terkontaminasi dan dapat pula dengan kontak langsung jari tangan yang terkontaminasi tinja, urin, sekret saluran nafas, atau dengan pus penderita yang terinfeksi. Agar dapat menimbulkan gejala klinis, diperlukan S. typhi dalam dosis 106 - 109 . Pada fase awal demam tifoid biasa ditemukan adanya gejala saluran nafas atas. Ada kemungkinan sebagian kuman ini masuk ke dalam peredaran darah melalui jaringan limfoid di faring. Pada tahap awal ini penderita juga sering mengeluh nyeri telan. Lidah tampak kotor tertutup selaput berwarna putih sampai berwarna putih sampai kecoklatan yang merupakan akibat sel epitel mati oleh bakteri S. typhi. Bila terjadi infeksi dari nasofaring melalui saluran tuba eustachi ke telingah tengah dan hal ini dapat terjadi otitis media. Di lambung, organisme menemui suasana asam dengan pH dengan rendah dalam kuman dimusnahkan. Pengosongan lambung yang bersifat lambat merupakan pelindung fisiologis. Setelah melalui barier asam lambung mikroorganiusme sampai ke usus halus dan menemui dua mekanisme pertahanan tubuh, yaitu motilitas dan flora normal usus. Penurunan motilitas usus karena obat-obatan atau faktor anatomis meningkatkan derajat beratnya penyakit dan timbulnya komplikasi, serta memperpanjang keadaan karier konvalesens. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa apabila kuman yang masuk sebanyak 103 atau kurang, belum dapat menimbulkan gejala pada penderita, tetapi jika jumlahnya lebih dari 105 atau lebih menimbulkan gejala pada 27% sukarelawan. Semakin tinggi jumlah kuman yang masuk, semakin besar kemungkinan seseorang terkena deman typhoid, apalagi apabila kuman tersebut termasuk jenis yang menghasilkan gen polisakarida kapsul atau Vi. Selanjutnya kuman akan menembus dinding usus halus, masuk ke kelenjar mesentrika, lalu ke duktus thoracicus dan masuk ke dalam peredaran darah, dan menimbulkan bakteriemi I. Kuman-kuman ini kemudian akan ditangkap oleh sel-sel RES dari limpa hati dan organ-organ lainnya. Setelah beberapa lama, kuman-kuman tersebut kembali masuk ke peredaran darah, dan menimbulkan bakteriemi II dan menyebar ke seluruh tubuh, termasuk melalui kantung empedu dan aliran empedu, masuk ke lumen usus lalu menembus hingga ke plaque peyeri. Manifestasi Klinis Pada anak, periode inkubasi demam tifoid antara 5-40 hari dengan rata-rata 10 – 14 hari. Gejala klinis demam tifoid sangat bervariasi, dari gejala klinis ringan dan tidak memerlukan perawatan khusus sampai dengan berat sehingga harus dirawat. Variasi gejala ini disebabkan faktor galur Salmonella, status nutrisi, imunologi dan lama sakit di rumahnya. Semua pasien demam tifoid selalu menderita demam pada awal penyakit. Pada era pemakaian antibiotik belum seperti saat ini, penampilan demam pada kasus demam tifoid mempunyai istilah khusus yaitu step ladder temperature chart yang ditandai dengan demam timbul insidius, kemudian naik secara bertahap tiap harinya dan mencapai titik tertinggi pada akhir minggu pertama, setelah itu demam akan bertahan tinggi dan pada minggu ke-4 demam turun perlahan secara lisis, kecuali apabila terjadi fokus infeksi seperti kolesistitis, abses jaringan lunak maka demam akan menetap. Banyak orang tua pasien demam tifoid melaporkan bahwa demam lebih tinggi saat sore dan malam hari dibandingkan denga pagi harinya. Pada saat demam sudah tinggi, pada kasus demam tifoid dapat disertai gejala sistem saraf pusat; seperti kesadaran berkabut atau delirium atau obtundasi, atau penurunan kesadaran mulai apati sampai koma. Gejala sistemik lain yang menyertai timbulnya demam adalah nyeri kepala, malaise, anoreksia, nausea, mialgia, nyeri perut, dan radang tenggorokan. Pada kasus yang berpenampilan klinis berat, pada saat demam tinggi akan nampak toksik/sakit berat. Bahkan dapat juga ijumpai penderita demam tifoid yang datang dengan syok hipovolemik sebagai akibat kurang masukan cairan dan makanan. Gejala gastrointestinal pada kasus demam tifoid sangat bervariasi. Pasien dapat mengeluh obstipasi, obstipasi kemudian disusul episode diare, pada sebagian pasien lidah tampak kotor dengan putih di tengah sedang tepi dan ujungnya kemerahan. Banyak dijumpai gejala meteorismus, berbeda dengan buku bacaan Barat pada anak Indonesia lebih banyak dijumpai hepatomegali dibandingkan splenomegali. Rose spot suatu ruam makulopapular yang berwarna merah dengan ukuran 2-4 sering kali dijumpai pada daerah abdomen, toraks, ekstremitas dan punggung pada orang tua kulit putih, tidak pernah dilaporkan ditemukan pada anak Indonesia. Bronkhitis banyak dijumpai pada demam tifoid sehingga buku ajar lama bahkan menganggap sebagai bagian dari penyakit demam tifoid. Bradikardi relatif jarang dijumpai pada anak. Penyulit (Komplikasi) Perforasi usus halus dilaporkan dapat terjadi pada 0,5-3 %, sedangkan perdarahan usus pada 1-10% kasus demam tifoid anak. Penyulit ini biasanya terjadi pada minggu ke-3 sakit, walau pernah dilaporkan terjadi pada minggu pertama. Komplikasi didahului dengan penurunan suhu, tekanan darah dan peningkatan frekuensi nadi. Pada perforasi usus halus ditandai oleh nyeri abdomen lokal pada kuadran kanan bawah akan tetapi dilaporkan juga nyeri yang menyelubung. Kemudian akan diikuti muntah, nyeri pada perabaan abdomen, dan hilangnya keredupan hepar. Pada komplikasi neuropsikiatri sebagian besar bermanifestasi gangguan kesadaran, disorientasi, delirium, obtudansi, stupor bahkan koma. Hepatitis tifosa asimtomatik dapat dijumpai pada kasus demam tifoid dengan ditandai peningkatan kadar transaminase yang tidak mencolok. Ikterus dengan atau tanpa disertai kenaikan kadar transaminase, maupun kolesistitis akut juga dapat dijumpai, sedang kolesistitis kronik yang terjadi pada penderita setelah mengalami demam tifoid dapat dikaitkan dengan adanya batu empedu dan fenomena pembawa kuman (karier). Sebagian kasus demam tifoid mengeluarkan bakteri Salmonella typhi melalui urin pada saat sakit maupun setelah sembuh. Sistitis bahkan pielonefritis dapat juga merupakan penyulit demam tifoid. Proteinuria transien sering dijumpai, sedangkan glomerunefritis yang dapat bermani9festasi sebagai gagal ginjal maupun sindrom nefrotik mempunyai prognosis yang buruk. Relaps yang didapat pada 5-10% kasus demam tifoid saat era pre antibiotik, sekarang lebih jarang ditemukan. Apabila terjadi relaps, demam timbul kembali seminggu setelah penghentian antibiotik. Pada umumnya relaps lebih ringan dibandingkan gejala demam tifoid sebelumnya. Gambaran Darah Tepi Anemia normokrom normositik terjadi sebagai akibat perdarahan usus atau supresi pada sumsum tulang. Jumlah leukosit rendah, namun jarang di bawah 3.000/l3. Apabila terjadi abses piogenik maka jumlah leukosit dapat meningkat mencapai 20.000 – 25.000/l3. Trombositopenia sering dijumpai, kadang-kadang berlangsung beberapa minggu. Diagnosa dan Deteksi Pembawa Kuman Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis berupa demam, gangguan gastrointestinal dan mungkin disertai perubahan atau gangguan kesadaran, maka seorang klinisi dapat dapat membuat diagnosis tersangka demam typhoid. Diagnosis pasti ditegakkan melalui isolasi S. typhi dari darah, atau dapat pula dari feces atau urine. Pada dua minggu pertama sakit, kemungkinan mengisolasi S. typhi dari dalam darah pasien lebih besar dari pada minggu berikutnya. Biakan yang dilakukan pada urin dan feses, kemungkinan keberhasilan lebih kecil. Biakan spesimen yang berasal dari aspirasi sumsum tulang mempunyai sensitivitas tertinggi, hasil positif didapat pada 90% kasus. Akan tetapi prcsedur ini sangat invasif, sehingga tidak dipakai dalam praktek sehari-hari. Pada keadaan tertentu dapat dilakukan biakan spesimen empedu yang diambil dari duodenum dan memberikan hasil yang cukup baik. Uji serologi Widal suatu metode serologik yang memeriksa antibodi aglutinasi terhadap antigen somatik (O), flagela (H) banyak dipakai untuk membuat diagnosis demam tifoid. Di Indonesia pengambilan angka titer O aglutinin > 1/40 dengan memakai uji Widal slide aglutination (prosedur pemeriksaan membutuhkan waktu 45 menit) menuniukkan nilai ramal positif 96%. Artinya apabila hasil tes positif, 96% kasus benar sakit demam tifoid, akan tetapi apabila negatif tidak menyingkirkan. Banyak pendapat apabila titer O aglutinin sekaii periksa > 1/200 atau pada titer sepasang terjadi kenaikan 4 kali maka diagnosis demam tit'oid dapat ditegakkan. Aglutinin H banyak dikaitkan dengan pasca imunisasi atau infeksi masa lampau, sedang Vi aglutinin dipakai pada deteksi pembawa kuman S. typhi (karier). Banyak peneliti mengemukakan bahwa uji serologik Widal kurang dapat dipercaya sebab dapat timbul positif palsu pada daerah endemis, dan sebaliknya dapat timbul negatif palsu pada kasus demam tifoid yang terbukti biakan darah positif.
Akhir-akhir ini banyak dimunculkan beberapa jenis pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi S.typhi dalam serum, antigen terhadap S. typhi dalam darah, serum dan urin bahkan DNA S. typhi dalam darah dan faeces. Walaupun laporan-laporan pendahuluan menunjukkan hasil yang baik namun sampai sekarang tidak salah satupun dipakai secara luas. Sampai sekarang belum disepakati adanya pemeriksaan yang dapat menggantikan uji serologi Widal.

Diagnosis Banding
Pada stadium dini demam tifoid beberapa penyakit kadang-kadang secara klinis dapat merupakan diagnosis banding yaitu influenza, gastroenteritis, bronkitis dan bronkopneumonia. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme intraselular seperti tuberkulosis, infeksi Jamur sistemik, bruselosis, tularemia, shigelosis dan malaria juga perlu dipikirkan. Pada demam typhoid yang berat, sepsis, leukemia, limfoma, dan penyakit hodgkin dapat sebagai diagnosis banding.

Tatalaksana
Sebagian besar pasien demam tifoid dapat diobati di rumah dengan tirah baring, isolasi yang memadai, pemenuhan kebutuhan cairan, nutrisi serta pemberian antibiotik. Sedangkan untuk kasus berat harus dirawat di rumah sakit agar pemenuhan cairan, elektrolit serta nutrisi disamping observasi kemungkinan timbul penyulit dapat dilakukan seksama.
Kloramfenikol masih merupakan pilihan pertama pada pengobatan penderita demam tifoid. Dosis yang diberikan adalah 100 mg/kg Berat Badan/hari dibagi dalam 4 kali pemberian selama 10 sampai 14 hari sedang pada kasus dengan malnutrisi atau penyakit, pengobatan dapat diperpanjang sampai 21 hari. Salah satu kelemahan kloramfenikol adalah tingginya angka relaps dan karier. Namun pada anak hal hal tersebut jarang dilaporkan.
Ampisilin memberikan respons perbaikan klinis kurang apabila dibandingkan dengan kloramfenikol. Dosis yang dianjurkan adalah 100-200 mg/kg Berat Badan/hari dibagi 4 kali pemberian secara oral atau suntikan intravena. Amoksilin dengan dosis 100 mg/kg Berat Badan/hari dibagi 4 kali pemberian memberikan hasil yang setara dengan kloramfenikol walaupun penurunan demam lebih lama. Kombinasi trimetophin sulfametoksazol memberikan hasil yang kurang baik dibanding kloramfenikol. Di beberapa negara sudah dilaporkan kasus demam tifoid yang resisten terhadap kloramfenikol. Seftriakson dan sefoperazon dapat memberikan angka kesembuhan 90% dan relaps 0-4%. Akhir-akhir ini cefixime oral 15-20 mg/kgBB/hari pertama 10 kali dapat diberikan sebagai alternatif, terutama apabila jumlah leukosit <2000/ atau dijumpai resistensi terhadap S.typhi. Pada demam tifoid kasus berat seperti delirium, koma atau syok, deksametason dosis tinggi 1 – 3 mg/kg Berat Badan/hari disamping antibiotik yang memadai dapat menurunkan angka kematian. Demam tifoid edngan tifoid denga npenyulit perdarahan usus kadang-kadang memerlukan tranfusi darah. Sedangkan apabila diduga terjadi perforasi, adanya cairan pada peritoneum dan udara bebas pada foto abdomen dapat membantu menegakan diagnosis. Laparotomi segera harus dilakukan pada perfusi usus didertai penambahan antibiotik metronidazol dapat memperbaiki prognosis. Tiga persen penderita demam typhoid akan menjadi karier, kejadiannya meningkat sesuai dengan bertambahnya umur. Terjadinya penderita dengan karier biasanya disebabkan oloh infeksi kandung empedu yang kronis akibat batu empedu dan penderita mengeluarkan kumannya melalui kotoran (kandung empedu dan saluran empedu sebagai sumber infeksi), sehingga kolesistektomi dapat dipertimbangkan pada > 8 % karier, bahkan tanpa pemberian antibiotika. Pengobatan Karier tergantung ada tidaknya kelainan kandung empedu.
1) Ampisilin 500 mg (tiap 6 jam) selama 6 minggu, atau
2) Ampisilin 200 mg (tiap 6 jam) selama 6 minggu, intravena, atau
3) Ampsilin 100 - 200 mg/kg/hari, untuk 3 - 4 minggu.
4) Amoksisilin 40 mg/kg/hari, peroral (tiap 8 jam) + Probenezid 25 mg/kg dosis pertama (selanjutnya 40 mg), peroral (tiap 6 jam), selama 4 - 6 minggu. TMP 8 mg/kg/hari, SMZ 40 mg/kg/hari, untuk 3 - 4 minggu.
5) Norfloxazin / Ciprofloxacin.
Merupakan golongan quinolon, telah berhasil baik pada penderita dewasa.
Karena pengaruhnya lerhadap perkeimbangan Tulang rawan, sehingga tidak dianjurkani untuk anak yang lebih muda dari 18 tahun. Disfungsi kandung empedu Obat dan dosis sama dengan untuk kandung empedu normal + Kolesistektomi + Amoksisilin untuk 30 hari kemudian.
Kasus demam tifoid yang mengalami relaps diberi pengobatan sebagai kasus demam tifoid serangan pertama.

Pencegahan
Secara umum, untuk memperkecil kemungkinan tercemar S.typlii, maka setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Salmonella typhi di dalam air akan mati apabila dipanasi seting 57 °C untuk beberapa menit atau dengan proses iodinasi/klorinasi.
Untuk rnakanan, pemanasan sampai suhu 57°C beberapa menit dan secara merata juga dapat mematikan kuman Salmonella typhi. Penurunan endemisitas suatu negara/daerah tergantung pada baik buruknya pengadaan sarana air dan pengaturan pembuangan sampah serta tingkat kesadaran individu terhadap higiene pribadi. Imunisasi aktif dapat membantu menekan angka kejadian demam tifoid.

Vaksin Demam Tifoid.
Saat sekarang dikenal (tiga macam vaksin untuk penyakit demam tifoid, yaitu yang berisi kuman yang dimatikan, kuman hidup dan komponen Vi dari Salmonella typhi. Vaksin yang berisi kuman Salmonella typhi, S. paratyphi A, S. paratyphi B yang dimatikan (TAB vaccine) telah puluhan tahun digunakan dengan cara pemberian suntikan subkutan namun vaksin ini hanya memberikan daya kekebalan yang terbatas, disamping efek samping lokal pada tempat suntikan yang cukup sering. Vaksin yang berisi kuman Salmonella typhi hidup yang dilemahkan (Ty-21a) diberikan per oral tiga kali dengan interval pemberian selang sehari, memberi daya perlindungan 6 tahun. Vaksin Ty-21a diberikan pada anak berumur di atas 2 tahun. Pada penelitian di lapangan didapat hasil efikasi proteksi yang berbanding terbalik dengan derajat transmisi penyakit. Vaksin yang berisi komponen Vi dari Salmonella typhi diberikan secara suntikan intramuskular memberikan perlindungan 60 – 70 %.

b. Difteri
Konsep Difteri
adalah suatu infeksi akut pada saluran pernafasan. Lebih sering menyerang anak-anak. Penularan difteri biasanya terjadi melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke orang lain yang sehat. Selain itu penyakit ini bisa juga ditularkan melalui benda atau makanan yang terkontaminasi. Tetapi tak jarang racun juga menyerang kulit dan bahkan menyebabkan kerusakan saraf dan jantung. Beberapa tahun yang lalu, Difteri merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak tetapi sekarang sudah tidak lagi.

Tingkatan Keparahan
Menurut tingkat keparahannya, penyakit ini dibagi menjadi 3 tingkat yaitu:
1) Infeksi Ringan.
bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya nyeri menelan.
2) Infeksi Sedang
bila pseudomembran telah menyerang sampai faring (dinding belakang rongga mulut) sampai menimbulkan pembengkakan pada laring.
3) Infeksi Berat
bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai dengan gejala komplikasi seperti miokarditis (radang otot jan tung), paralisis (kelemahan anggota gerak) dan nefritis (radang ginjal).

Cara Penularan Difteri
Bisa ditularkan melalui udara (percikan ludah/droplet) dan selain itu bisa ditularkan juga melalui makanan yang terkon taminasi.

Gejala Penderita Difteri
Difteri termasuk penyakit saluran pernafasan bagian atas. Anak yang terinfeksi kuman Difteri setelah 2-4 hari akan mengalami gejala-gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas, diantaranya:
1) Demam tinggi (38 °C)
2) Nyeri telan
3) Pusing
4) Tampak selaput berwarna putih keabu-abuan (Pseudo membran)
5) Bengkak pada leher
Beberapa anak dapat mengalami sakit kepala, suara parau, nyeri menelan, dan nyeri otot. Gejala-gejala ini disebab kan oleh racun yang dihasilkan oleh kuman difteri. Jika tidak diobati, racun yang dihasilkan oleh kuman ini dapat menyebab kan reaksi peradangan pada jaringan saluran napas bagian atas sehingga sel-sel jaringan dapat mati. Sel-sel jaringan yang mati bersama dengan sel-sel radang membentuk suatu membran atau lapisan yang dapat mengganggu masuknya udara pernapasan. Membran atau lapisan ini berwarna abu-abu kecoklatan, dan biasanya dapat terlihat. Gejalanya anak menjadi sulit bernapas. Jika lapisan terus terbentuk dan menutup saluran napas yang lebih bawah akan menyebabkan anak tidak dapat bernapas. Akibatnya sangat fatal karena dapat menimbulkan kematian jika tidak ditangani dengan segera.
Racun yang sama juga dapat menimbulkan komplikasi pada jantung dan susunan saraf, biasanya terjadi setelah 2-4 minggu terinfeksi dengan
kuman difteri. Kematian juga sering terjadi karena jantung menjadi rusak.

Pertolongan Pertama Pada Difteri
1) Pergi ke dokter bila ada gejala Difteri
2) Ada gejala: dilakukan pemeriksaan Swab (hidung atau tenggorokan)
3) Hasil pemeriksaan akan di periksa di laboratorium. Bila terbukti hasil pemeriksaan positif maka bisa diberikan terapi oleh dokter.

Pencegahan Difteri
1) Memberikan kekebalan pada anak-anak dengan cara :
a) Imunisasi DPT/HB untuk anak bayi. Imunisasi di berikan sebanyak 3 kali yaitu pada saat usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan.
b) Imunisasi DT untuk anak usia sekolah dasar (usia kurang dari 7 tahun). Imunisasi ini di berikan satu kali.
c) Imunisasi dengan vaksin Td dewasa untuk usia 7 tahun ke atas.
2) Hindari kontak dengan penderita langsung difteri.
3) Jaga kebersihan diri.
4) Menjaga stamina tubuh dengan makan makanan yang bergizi dan berolahraga cuci tangan sebelum makan.
5) Melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur.
6) Bila mempunyai keluhan sakit saat menelan segera memeriksakan ke Unit Pelayanan Kesehatan terdekat.

Pertolongan terhadap difteri yang menyerang keluarga/teman:
1) Hindari kontak langsung dengan penderita difteri atau karier (pembawa) difteri.
2) Lakukan pemeriksaan kesehatan diri dan anggota keluarga ke fasilitas kesehatan terdekat.
3) Menjaga kebersihan diri dan lingkungan rumah.
4) Penderita Difteri atau karier agar menggunakan masker sampai sembuh.

c. Pertusis
Konsep pertusis
1) Penyakit radang paru (pernapasan) disebut juga batuk rejan / batuk 100 hari, karena lama sakitnya mencapai 3 bulan lebih / 100hari.
2) Penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh Bordetella pertusis. Disebut juga tussis quinta / whooping cough/batuk rejan
3) Penyakit infeksi akut pada saluran pernapasan yg sangat menular yg ditandai oleh sindrom yg terdiri dari batuk yg bersifat spasmodik dan paroksimal disertai nada meninggi.

Penyebab
Disebabkan oleh Bordetella pertusis.
Sifat- sifat :
Termasuk gram negatif, tidak dapat bergerak, tidak berspora, terdapat kapsul, bertahan pada suhu 0-10°C,dan mati pada pemanasan suhu 55°C selama 30 menit.

Gejala klinis
Penularan pertusis melalui kontak langsung, dan resiko tertinggi pada bayi. Masa inkubasi 6-10 hari (rata-rata 7 hari). Gejala Umum ada 3 fase :
1) Fase kataral (1-2 minggu) : gejala ISPA, pilek, batuk ringan keluar air mata, mata merah, panas sedang.
2) Fase paroksimal/Serangan (2-4 minggu) batuk bertambah berat dan sering, kuat beruntun 5-10 x dalam 1x mengeluarkan napas diikuti usaha menarik napas sehingga menimbulkan whooping. Anak terlihat biru, mata melotot, lidah menjulur keluar air mata, muntah. Kadang anak apatis dan terjadi penurunan BB
3) Fase penyembuhan (1-2 mg). Serangan batuk “whooping“ dan muntah menurun. Batuk masih ada sampai beberapa bulan.


Komplikasi
1) Komplikasi paling sering adalah pneumonia (radang paru)
2) Kejang dan kesadaran menurun
3) Perdarahan konjungtiva
4) Hernia

Penanganan
1) Pemberian antibiotik dapat mengurangi kuman dalam 3-4 hari, sehingga mengurangi resiko penularan.
2) Pemberian nutrisi dan cairan yang cukup
3) Penghisapan lendir
4) Pemberian O2
5) Pencegahan dengan pemberian imunisasi aktif (DPT) yang diberikan mulai umur 3 bulan sebanyak 3 x selang 5-6 mg

d. Tetanus
Konsep Tetanus
1) Penyakit toksemia akut yang disebabkan oleh CLOSTRIDIUM TETANI
2) Suatu penyakit dengan gangguan neuromuskular akut berupa trismus, kekakuan oleh eksotoksin spesifik dari kuman anaerop CLOSTRIDIUM TETANI

Penyebab
1) Disebabkan oleh CLOSTRIDIUM TETANI bakteri gram positif yang bersifat anaerob yang dapat membentuk spora yang terdapat ditanah, kotoran manusia maupun binatang. Pada suhu lembeb yang tidak terkena matahari spora dapat bertahan berbulan –bulan.
2) Gejala disebabkan oleh toksin yang dikeluarakan basil yang disebabkan oleh tetanospasmin yanga menyerang sumsum tulang belakang dan otak.

Gejala klinis
1) Masa Inkubasi 3-21hari.
2) Makin lama jarak luka dengan pusat syaraf masa inkubasi lebih lama.
3) 50% penderita mengalami trimus “RISUS SARDONICUS”
4) Panas sedang, iritabel, gelisah, kaku kuduk, kesulitan menelan, kekakuan pada otot perut, punggung dan dada yang menyebabkan epistotonus yaitu punggung kaku sampai melengkung.
5) Kejang (spasme) kadang disertai sianosis karena tidak dapat bernapas pada saat serangan.
6) Kejang disebabkan adanya rangsangan cahaya, suara keras, bicara, goyangan tempat tidur / sentuhan ringan
7) Pada bayi mulut mencucu seperti ikan sering disertai kejang.

Macam tetanus
1) Tetanus Ringan
a) Trismus > 3 cm
b) Tidak disertai kejang walaupun dirangsang
GRADE I ( Ringan )
a) Inkubasi > 14hari
b) Periode of onset > 6 hr
c) Trismus + tapi tidak berat
d) Sulit makan dan minum
e) Spasme dekat luka dan terjadi beberapa jam / hari
2) Tetanus Sedang
a) Trismus < 3 cm b) Disertai kejang bila dirangsang GRADE II (Sedang) a) Inkubasi 10-14 hari b) Periode of onset 3 hari/kurang c) Ada trismus d) Ada spasme beberapa hari tapi tidak sampai apneu 3) Tetanus Berat a) Trismus < 1 cm b) Kejang spontan GRADE III (Berat) a) Inkubasi < 10hari b) Periode of onset 3 hari/kurang c) Trismus berat d) Tidak bisa makan dan minum e) Spasme umum f) Asfiksi gelisah g) Takikardia h) Keringat banyak Komplikasi 1) Spasme otot faring menyebabkan air liur terkumpul dalam rongga mulut menyebabkan pneumonia aspirasi 2) Asfiksia 3) fraktur Penanganan 1) Isolasi 2) Mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi TKTP 3) Menjaga jalan napas 4) Pemberian O2 5) Mengurangi spasme dan anti kejang 6) Perawatan luka secara steril 7) Pencegahan a) Imunisasi aktif : imunisasi DPT. Proteksi selama 5-10tahun setelah imunisasi boster. b) Imunisasi Pasif : diberikan ATS pada penderita luka yang berisiko terjadi infeksi tetanus, diberikan bersamaan dengan TT Tetanus neonatorum 1) Disebabkan karena pemotongan dan perawatan tali pusat yang tidak bersih 2) Pengobatan : a) Netralisasi toksin dengan ATS b) Membersihkan luka tempat masuknya kuman c) Pemberian antibiotik penisilin/tetrasiklin d) Pemberian nutrisi, cairan dan kalori e) Merawat ditempat yang tenang dan tidak terlalu terang e. Hepatitis Pengertian 1) Peradangan pada hati yang terjadi karena agen penyebab yaitu virus hepatitis 2) Infeksi virus pada hati yang terletak diperut kanan bagian atas. Penyebab 1) Ada 6 tipe virus yg masing-masing menyebabkan tipe hepatitis yg berbeda yaitu tipe A, B, c, D, dan G 2) Yang paling berbahaya Virus Hepatitis B, belum bisa dibiakkan dan intinya dapat menyatu dengan sel hati yang mengakibatkan keganasan dan kanker hati. Gejala Klinis 1) Tidak selalu kuning 2) Mual sampai muntah 3) Lesu, cepat lelah 4) Demam 5) Nafsu makan menurun 6) Perasaan tidak enak diperut 7) Sering terdapat pembesara hati Perjalanan Penyakit 1) Stadium Pertama (bersifat imun toleran) Pada BBL, stadium ini berlangsung beberapa dekade sedang pada dewasabrlangsung 2-4 minggu 2) Stadium Dua (berkembang sistem imun) Pada hepatitis akut, stadium ini berlangsung selama 3-4mg. Sedang pada hepatitis kronik berlangsung selama 10th dan menjadi sirosis dengan segala macam komplikasi 3) Stadium Tiga Dimulai saat tubuh mampu mempertahankan respon imun dan mampu mengeliminasi virus, akhirnya replikasi virus berhenti 4) Stadium Empat Virus HbsAg holang dan terbentuk antibodi HBs Penularan 1) Secara transmisi vertikal yaitu dari ibu ke bayi/anak a) Terjadi pada saat bayi masih diintrauteri b) Saat lahir (intrapartum) c) Saat setelah lahir (post partum) 2) Secara horizontal yaitu dari anak ke anak Melalui kontak erat melalui anggota keluarga Penatalaksanaan 1) Diet a) Keseimbangan elektrolit dan asam basa. Bila peroral tidak memungkinkan berikan cairan infus. b) Makanan dengan gizi lengkap. 2) Pengobatan a) Bila ada perdarahan saluran pencernaan berikan Vit K b) Bila terdapat gejala hipokalemia perikan Kalium per infus c) Bila ada oedem berikan dexametason 3) Pasien dirawat tersendiri dan sediakan selalu desinfektan 4) Setelah tindakan cuci tangan sesudah tindakan menggunakan desinfektan 5) Feses dan urin harus dibuang di WC dan disiram dengan air 6) Istirahat total, bila bilirubin SGPT/SGOT menurun boleh bermain dan SGPT/SGOT dikontrol tiap minggu. 4. Bayi meninggal mendadak (SIDS) a. Konsep SIDS Terjadi pada bayi sehat yg ditidurkan tiba-tiba ditemukan meninggal, yang banyak terjadi pada bayi usia 2 minggu – 1 tahun. Yang berisiko mengalami SIDS adalah prematur, bayi dengan BBLR dan bayi dari kehamilan multiple. Bayi laki – laki memiliki resiko lebih besar. Insiden tertinggi SIDS adalah pada usia antara 2 dan 4 bulan, dan terjadi terutama pada malam hari. Pada sebagian kasus, yang terdapat riwayat infeksi saluran nafas atas seminggu sebelum kematian. Yang mengalami peningkatan resiko SIDS adalah saudara kandung dari anak yang meninggal karena SIDS, dan bayi yang pernah mengalami episode apnu berkepanjangan, yaitu SIDS yang nyaris terjadi. b. Penyebab Penyebab SIDS tidak diketahui. Sebagian bukti mengisyaratkan bahwa susunan syarat pusat yang belum matang gagal berespon terhadap peningkatan kadar karbondioksida. Secara normal, peningkatan kadar karbon dioksida adalah suatu rangsangan untuk bernafas, sampai kadar yang sangat tinggi yang akhirnya menekan pernafasan. Bayi normal sehat kadang - kadang memperlihatkan apnu, dimana pada saat itu kadar kabon dioksida meningkat, yang merangsang bayi bernafas. Bayi yang mengalami SIDS atau nyaris mengalami SIDS, mungkin tidak berespon terhadap peningkatan karbon dioksida dengan melakukan ventilasi, mereka yang mungkin hanya memperlihatkan depresai ventilasi sebagai respon terhadap karbon dioksida. Pada bayi ini, akan terjadi apnu, kadar karbon dioksida meningkat, dan bukannya merangsang pernafasan, kadar tersebut menyebabkan episode apnu berkepanjangan. Akibatnya kadar-kadar karbon dioksida menjadi sangat tinggi yang akhirnya menekan total ventilasi sampai bayi meninggal. Penyebab lain kematian bayi mendadak. Baru - baru ini kejadian SIDS sejati telah dipisahkan dari penyebab lain kematian bayi mendadak. Misalnya bayi yang diduga meninggal mendadak akibat SIDS sebenarnya mengalami pembekapan akibat berbaring tertelungkup di atas kasur atau bantal yang terlalu lunak. Sewaktu berbaring telungkup, bayi terbekap akibat ketidakmampuannya dengan bebas menggerakkan kepalanya berubah posisi. Apabila wajah bayi terbenam kesuatu cekungan kecil lunak pada kasur dan bantal, maka bayi tersebut menghembuskan nafasnya kedalam cekungan tersebut dan kembali udara yang sama. Konsentrasi karbon dioksida dalam kantong udara tersebut meningkat, sehingga terjadi depresi susunan syaraf pusat dan terhentinya pernafasan. c. Gambaran klinis 1) Kematian akibat tercekik atau gagal jantung karena henti pernafasan. 2) Gejala – gejala episode apnu yang nyaris menjadi SIDS adalah sianosis dan sewaktu dibangunkan terengah - engah menghirup udara. d. Terapi 1) Dilakukan pemasangan alat kontrol terhadap apnu. 2) Diarahkan untuk pencegahan. Perhatian terhadap dimana dan dalam posisi apa bayi ditempatkan dan usaha untuk mencegah penganiayaan. Dengan demikian, bayi dianjurkan berbaring pada posisinya, bukan ditelungkupkan, dan jangan ditinggalkan apabila berbaring di kasur air, sprei, bantal, atau karpet bulu yang lunak. Penyebab lain kematian bayi yang kadang - kadang didiaknose sebagai SIDS adalah penganiayaan anak. Cedera pada batang otak bayi terjadi walaupun hanya dengan pengguncangan sedang. Cedera tersebut dapat menyebabkan depresi pernafasan dan kematian. e. Respon berduka Perasaan dan emosi selanjutnya disebut dengan respon berduka. Bowlby dan Parks (1970) serta Davidson (1984) karakteristik berduka dan proses berkabung. Empat dimensi berkabung diidentifikasi. 1) Syok dan hilang rasa dialami orang tua ketika mereka mengungkapkan perasaan sangat tidak percaya, panik, tertekan atau marah. Pengalaman ini dapat diinterupsi oleh letupan emosi. 2) Mencari dan merindukan dapat diidentifikasi sebagai perasaan gelisah, marah, bersalah dan mendua ( ambiguitas ). Dimensi ini merupakan suatu kerinduan akan sesuatu yang dapat terjadi dan merupakan proses pencarian jawaban mengapa kehilangan terjadi. Fase ini terjadi saat kehilangan terjadi dan memuncak 2 minggu sampai 4 bulan setelah kehilangan. 3) Disorganisasi diidentifikasi saat individu yang berkabung mulai berbalik, dari menguji apa yang nyata menjadi sadar terhadap realitas kehilangan. Perasaan tertekan, sulit konsentrasi pada pekerjaan dan penyelesaian masalah, dan perasaan bahwa ia merasa tidak nyaman dengan kondisi fisik dan emosinya muncul. Fase ini memuncak sekitar 5 sampai 9 bulan dan secara perlahan menghilang. 4) Reorganisasi terjadi bila individu yang berduka dapat berfungsi di rumah dan di tempat kerja dengan lebih baik disertai peningkatan harga diri dan rasa percaya diri. Fase ini terjadi bila orang tua tertawa dan bila mereka mulai menikmati hal – hal sederhana dalam hidupnya tanpa merasa bersalah. Reorganisasi mulai memuncak setelah tahun pertama, yakni saat orang tua mulai melanjutkan hidupnya. Check List Penanganan Diare, Obstipasi, Infeksi Dan SIDS No Klasifikasi Penanganan 1. Diare a. Diare ringan Untuk semua umur, diberikan oralit peros 50 ml/kgBB, lama pemberian 4 jam b. Diare sedang Untuk semua umur, diberikan oralit peros 100 ml/kgBB, lama pemberian 4 jam c. Diare berat 1) Bayi 0-12 bln, cairan RL 30 ml/kgBB atau 10 – 12 tts / kg BB, lama pemberian 1 jam 2) Anak > 2 tahun, cairan RL 10 ml/kgBB atau 3 – 14 tts / kg BB, lama pemberian 7 jam bersama oralit peros dan adlibitum atau 125 ml/kgBB, lama pemberian 16 jam
3) Anak > 12 tahun dan orang dewasa, pemberian RL dan oralit masing-masing 100 ml/kgBB, lama pemberian 4 jam untuk RL dan 20 jam untuk oralit
2. Obstipasi a. Menyarankan kepada orang tua untuk merubah pola makan si kecil
b. Menyarankan kepada orang tua untuk memperbanyak cairan dan bahan makanan berserat harus ada di menu sehari-hari yang ia konsumsi
c. Memberikan obat yang berfungsi untuk menarik cairan yang ada disekitar pencernaan dan membuat feses yang ada lebih lunak sehingga relatif lebih mudah dikeluarkan dari dubur
d. Menyarankan kepada orang tua hendaknya tidak menghiraukan hasil yang ekspres dari terapi yang ada karena hilangnya gejala sembelit memerlukan waktu yang cukup lama.
3. Infeksi a. Infeksi kulit
1) Gunakan sarung tangan bersih
2) Bersihkan bagian kulit yang meradang dengan sabun
3) Bila tidak ada perubahan > 3 hari atau keadaan memburuk à Rujuk
b. Infeksi mata
1) Cuci tangan dan bersihkan kedua mata 3 kali sehari dengan kasa yang dicelup air hangat dari arah lateral ke medial (dari samping ke tengah)
2) Dilanjutkan dengan mengoleskan salep mata tetrasiklin 1% atau kloramfenikol 1% pada kedua mata
3) Cuci tangan kembali
4) Bila tidak ada perubahan > 3 hari atau keadaan memburuk à Rujuk
c. Infeksi tali pusat
1) Cuci tangan, mengenakan sarung tangan bersih
2) Bersihkan tali pusat dan sekitarnya dengan kasa bersih yang dicelupkan di air hangat
3) Oles tali pusat bayi dan sekitar dengan gentian violet 0,5% atau povidon iodin 2,5%, 4 kali sehari sampai tidak bernanah lagi
4) Cuci tangan kembali
5) Bila keadaan memburukà Rujuk
d. Infeksi sistemik/sepsis neonatorum
Rujuk, bila ada salah satu tanda :
1) Bayi mengantuk/letargis atau tidak sadar
2) Kejang disertai tanda/gejala infeksi lain
3) Gangguan napas
4) Malas/tidak bisa minum dengan atau tanpa muntah
5) Ada bagian bayi berwarna merah, mengeras (sklerema)
6) Ubun-ubun cembung
7) Suhu badan > 37,5 C
8) Suhu badan <36 C
4. Bayi meninggal mendadak (Sudden infant death syndrom SIDS) Pendampingan respon berduka/kehilangan terhadap ibu dan keluarga


DOKUMENTASI SOAP


A. Pendahuluan
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan serta keterampilan dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang terfokus pada pasien (Varney, 1997).
Manajemen kebidanan terdiri dari tujuh langkah yang berurutan, diawali dengan pengumpulan data sampai dengan evaluasi. Proses ini bersifat siklik (dapat berulang), dengan tahap evaluasi sebagai data awal pada siklus berikutnya. Proses manajemen kebidanan terdiri atas langkah-langkah : berikut ini :
1. Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan. Kegiatan pengumpulan data dimulai saat pasien masuk dan dilanjutkan secara terus menerus selama proses asuhan kebidanan berlangsung. Data dapat dikumpulkan dari berbagai sumber melalui 3 macam teknik yaitu wawancara (anamnesis), observasi dan pemeriksaan fisik. Wawancara adalah perbincangan terarah dengan cara tatap muka dan pertanyaan yang diajukan mengarah pada data yang relevan dengan pasien. Observasi adalah pengumpulan data melalui indera penglihatan (perilaku pasien, ekspresi wajah, bau, suhu dan lain-lain). Pemeriksaan adalah proses untuk mendapatkan data obyektif dari pasien dengan menggunakan instrumen tertentu.
2. Menginterpretasikan data untuk diagnosis atau masalah
3. Mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya
4. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi, dengan tenaga kesehatan lain serta melakukan rujukan berdasarkan kondisi klien
5. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek sosial yang tidak efektif
6. Pelaksanaan langsung asuhan secara efisien dan aman
7. Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif

ASUHAN KEBIDANAN PADA NEONATUS, BAYI, DAN ANAK BALITA
DI .........................................................

I. PENGKAJIAN (Tanggal ....................., ....................., .......................) Jam : ......................
A. Biodata
1. Klien
a. Nama :
b. Tempat tanggal lahir / umur :
c. Jenis kelamin :
d. Anak ke :
e. No. DMK / No. Reg :
2. Orang tua
a. Nama : Ny ............................... ./
Tn. ............................
b. Umur : ............ / ........... th
c. Agama : ............ / ........... th
d. Pendidikan : ............ / ........... th
e. Pekerjaan : ............ / ........... th
f. Alamat :
B. Keluhan utama / Riwayat kesehatan sekarang
C. Riwayat kesehatan yang lalu
1. Riwayat antenatal
a. Ibu rutin / tidak rutin memeriksakan kehamilannya (ANC): ke Puskesmas ...........x, Puskesmas Pembantu ...............x, Polindes ...............x, RS ...........x, Bidan swasta./ BPS .......................x, DSOG.......................x. Jadi selama hamil ANC ................. x.
b. Mendapatkan imunisasi TT ..................................................................x / TT Boster
c. Obat – obatan yang pernah diminum : Fe, kalk, vit C, Vit BC, Vit B1, ............dsb.
d. Keluhan selama hamil muda ....................................................................................
e. bu tidak / mempunyai riwayat alergi terhadap, makanan ........./ obat – obatan .......
f. Ibu tidak / pernah menderita penyakit akut / kronis : ............................................. ( DM, asma, jantung, ginjal, TBC )
g. Ibu tidak / pernah menderita penyakit menular seperti: ........................................... (TBC, hepatitis, typpus abdominalis, malaria, PMS )
h. Keluhan selama hamil tua ........................................................................................
i. Umur kehamilan ......................................................................................... minggu.
j. Selama hamil ibu minum jamu ..............., pantangan terhadap makananan ..........., minuman....................................................................................................................
2. Riwayat intranatal
a. Ibu merasa kenceng – kenceng mulai tgl ................. jam .................., sifat: adekuat / tidak, lama / durasi, sudah mengeluarkan .................. ketuban pecah tgl ................ jam ......................... ( warna: bening, keruh (hijau / hitam ) sifat : sedikit / banyak.) KPD / tidak. Bayi lahir di tolong oleh.................................., persalinan berlangsung secara: ....................... spontan, vacum ekstraksi, SC, jenis kelamin ........................, BB .................. gram, PB ...................cm, LK ................... cm, LD ....................cm. Selama persalinan tidak / ada kesulitan / kelainan ...................................................., tidak / ada cacat bawaan ........................................................................... pada bayi.
Plasenta lahir : jam .................................... , dengan cara ..........................................
b. Lama persalinan : kala I : ...........................jam atau menit
kala II : ...........................jam atau menit
kala III : ...........................jam atau menit
kala IV : ...........................jam atau menit
c. Obat yang diberikan : .........................
3. Riwayat neonatal
a. Bayi lahir secara : ..................
b. AS : ..................
c. BB : ..................
d. LD : ..................
e. LK : ..................
f. Minum ASI / PASI : ..................
g. Selama bayi yang merawat : .....................
4. Riwayat nifas : ibu minum jamu .................................................................., pantangan terhadap makanan ................................................., minuman........................................
5. Riwayat tumbuh kembang ..............................................................................................
6. Riwayat imunisasi / status kesehatan terakhir ................................................................
7. Riwayat keluarga : ..........................................................................................................
D. Pola kegiatan sehari – hari :
1. Pola nutrisi
a. Sebelum sakit
b. Selama sakit
2. Pola eliminasi
a. Sebelum sakit
b. Selam sakit
3. Pola istirahat tidur
a. Sebelum sakit
b. Selama sakit
4. Pola personal higiene
a. Sebelum sakit
b. Selama sakit
E. Data Psikososial : ................................
F. Pemeriksaan fisik :
1. Tanda – tanda vital :
a. Nadi :
b. Respirasi :
c. Suhu :
2. Kepala :
3. Mata :
4. Hidung :
5. Mulut :
6. Telinga :
7. Leher :
8. Thorak :
9. Jantung :
10. Abdomen :
11. Anogenetalia :
12. Ekstremitas :
13. Punggung :
14. Pemeriksaan reflek :
15. Status gizi
a. Sebelum sakit : BB ...................... gram, TB ......................., LD..................cm, LK ............................cm, LLA......................... cm, lingkar perut ........................cm.
b. Selama sakit : BB .................................. gram, TB ....................................cm, LD .....................................................cm, LK .......................................................cm
G. Pemeriksaan penunjang :

II . IDENTIFIKASI MASALAH / DIAGNOSA
Langkah kedua ini merupakan pengembangan mengenai masalah dan interpretasi data dasar.
III . ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL
Mengidentifikasi masalah dan diagnosa potensial lainnya berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang ada timbul bila tidak segera diatasi akan mengganggu keselamatan jiwa.

IV . IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
Merupakan langkah yang menggambarkan sifat berkesinambungan dan proses penatalaksanaan bukan hanya asuhan primer kunjungan perinatal saja, tetapi juga pada saat bidan bersama klien. Data-data baru dikumpulkan dan dievaluasi. Beberapa data mengidentifikasi adanya situasi gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk keselamatan ibu dan anak.

V . INTERVENSI / RENCANA ASUHAN
Pengembangan rencana asuhan kebidanan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya, lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah diantisipasi dan juga mencakup langkah untuk mendapatkan informasi tambahan.

VI . IMPLEMENTASI
Implementasi yang komprehensif merupakan pengobatan dan perwujudan dari rencana yang telah disusun pada tahap-tahap perencanaan. Pelaksanaan dapat terealisasi dengan baik apabila dapat ditetapkan berdasar hakekat, masalah, beberapa prinsip dalam pelaksanaan tindakan meliputi :
1. Tindakan kebidanan apa yang dikerjakan sendiri, diabantu atau dilimpahkan kepada staf
2. Pembiasaan pengetahuan dan keterampilan bidang tertentu tindakan yang dilakukan
3. Mengamati hasil tindakan yang diberikan petugas kesehatan

VII. EVALUASI
Adalah seperangkat tindakan yang saling berhubungan untuk mengukur pelaksanaan serta didasarkan atas tujuan dan riteria-kriteria evaluasi ini adalah menilai efektivitas serta sebagai umpan balik untuk memperbaiki. Menyusun langkah baru dalam asuhan kebidanan, menunjang tanggung jawab dalam evaluasi menggunakan format SOAP yaitu:
S (Subjektif) : Menggunakan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa
O (Objektif) : Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan tes diagnostik, lain dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung assessment
A (Assesment) : Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan analisa dan interpretasi data subjektif dan objektif
P (Planning) : Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan dan evaluasi berdasarkan assesment

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar